POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS,-Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Perencanaan Pembangunan (Renbang) kawasan konservasi dan rawan bencana yang berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 30 hingga 31 Maret 2026, bertempat di Hotel Akasih Doloksanggul.
Kegiatan ini mengusung tema “Perlindungan Aset Ekologis Hulu dan Mitigasi Bencana Regional” sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta memperkuat ketahanan wilayah terhadap berbagai potensi bencana.
Dalam sambutan dan arahannya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Sumatera Utara, Dr.Dikky Anugerah Panjaitan. S.Sos, M.SP, menegaskan bahwa kawasan hulu memiliki peran yang sangat vital sebagai penopang kehidupan masyarakat luas. Kawasan ini tidak hanya menjadi sumber air dan penyangga ekosistem, tetapi juga berfungsi sebagai benteng alami dalam mengurangi dampak bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan.
Ia menekankan bahwa pembangunan ke depan tidak boleh lagi mengabaikan aspek lingkungan. Menurutnya, pendekatan pembangunan harus berbasis pada prinsip keberlanjutan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
Sinergi antar pemerintah daerah, provinsi, dan pusat menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kelestarian alam dan keselamatan masyarakat.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah menyampaikan pandangan dan komitmen daerah dalam mendukung agenda strategis tersebut.
Dalam keterangannya, Sekda Humbahas mengungkapkan bahwa Bupati Humbahas saat ini tengah melaksanakan agenda penting bersama dalam rangka meninjau kawasan Taman Sains dan Teknologi Herbal (TSTH) di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Peninjauan tersebut merupakan bagian dari langkah konkret dalam mendorong pengembangan kawasan berbasis riset dan inovasi yang tetap mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan. Kawasan TSTH diharapkan menjadi pusat unggulan nasional dalam pengembangan tanaman herbal sekaligus menjadi model pengelolaan kawasan yang berwawasan ekologis dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Sekda Humbahas juga memberikan penjelasan yang lebih mendalam terkait kondisi geografis dan dinamika kebencanaan di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan.
Ia menyampaikan bahwa secara topografi, Humbahas merupakan daerah yang memiliki kawasan perbukitan dan pegunungan yang cukup luas, sehingga berpotensi mengalami berbagai jenis bencana alam, seperti tanah longsor, banjir bandang, serta pergerakan tanah.
“Memang harus kita akui bahwa Kabupaten Humbang Hasundutan termasuk daerah yang cukup rawan terhadap bencana alam. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten Humbahas bersama seluruh pemangku kepentingan tidak tinggal diam. Kami terus membangun sistem respons yang cepat, terukur, dan terkoordinasi, sehingga setiap kejadian bencana dapat ditangani dengan segera,” ungkap Sekda.
Ia menambahkan bahwa selama ini berbagai kejadian bencana yang terjadi di wilayah Humbahas dapat diatasi dengan cepat berkat sinergi yang baik antara pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Respons cepat tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam memperkuat sistem mitigasi bencana, termasuk melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana kebencanaan, serta penyusunan peta rawan bencana yang lebih akurat.
Selain itu, Pemkab Humbahas juga terus menggalakkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Masyarakat didorong untuk memahami potensi risiko di lingkungan masing-masing serta mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan serta mempercepat proses penanganan di lapangan.
Sekda juga menegaskan bahwa ke depan, Pemerintah Kabupaten Humbahas akan semakin memperkuat kebijakan pembangunan yang berbasis pada mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan. Hal ini mencakup program rehabilitasi hutan dan lahan kritis, pengendalian tata ruang yang lebih ketat, serta pengembangan ekonomi hijau yang ramah lingkungan.
“Kami ingin memastikan bahwa pembangunan di Humbahas tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan alam dan melindungi masyarakat dari risiko bencana. Oleh karena itu, sinergi dengan pemerintah provinsi dan pusat akan terus kami tingkatkan,” tambahnya.
Dalam forum Rakortek tersebut, Sambutan dan Arahan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan ,Riset Dan Innovasi Daerah oleh Dr. Dikky Anugerah Panjaitan S.Sos, M.SP juga turut menyampaikan pandangan dan rekomendasi terkait upaya perlindungan kawasan hulu dan mitigasi bencana sekaligus menutup kegiatan tersebut .
Diskusi yang berlangsung intensif ini diharapkan mampu menghasilkan rumusan kebijakan yang komprehensif dan implementatif, sehingga dapat diterapkan secara efektif di masing-masing daerah.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi momentum penting bagi seluruh peserta untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Dengan adanya koordinasi yang solid dan perencanaan yang matang, diharapkan perlindungan aset ekologis hulu di Sumatera Utara dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Rakortek Renbang kawasan konservasi dan rawan bencana ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menjadi wadah konsolidasi dalam menyatukan visi pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan melalui pernyataan Sekda menegaskan bahwa tantangan kebencanaan bukanlah hambatan, melainkan menjadi dorongan untuk terus berinovasi dan memperkuat sistem perlindungan lingkungan serta keselamatan masyarakat secara menyeluruh. (PS/B.Nababan)
