POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL – Suasana Ramadan 1447 H/2026 M di SMKN 1 Arse terasa berbeda. Bukan sekadar rutinitas tahunan, sekolah kejuruan di Kabupaten Tapanuli Selatan ini menjadikan Ramadan sebagai ruang pembentukan karakter yang menyentuh sisi kemanusiaan siswa. Melalui monitoring yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026, seluruh rangkaian kegiatan dipastikan berjalan sistematis, terukur, dan sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Bersama (SEB) Nomor 5, Nomor 2, dan Nomor 400.1/857/SJ Tahun 2026.
Kepala sekolah, Aspan Marwaji, S.Pd menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga kesempatan emas membangun empati dan tanggung jawab sosial peserta didik. “Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara akhlak dan kepedulian,” ujarnya.
Baginya, pendidikan sejati adalah yang mampu menyeimbangkan kecakapan vokasi dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada fase pembelajaran mandiri 18–21 Februari 2026, siswa diberi tugas berbasis keluarga dan masyarakat. Mereka diminta membantu orang tua, terlibat dalam aktivitas sosial, serta menjaga nama baik sekolah di lingkungan masing-masing. Pendekatan pembelajaran kontekstual ini membuat Ramadan terasa lebih hidup—nilai tanggung jawab dan adab tidak hanya dipelajari di kelas, tetapi dipraktikkan langsung dalam keseharian.
Sekolah juga memastikan tugas yang diberikan tidak membebani siswa, baik dari sisi finansial maupun kebutuhan internet. Penugasan dirancang sederhana, relevan dengan kompetensi keahlian tiap jurusan, dan tetap menyenangkan. Dengan demikian, motivasi belajar tetap terjaga tanpa mengurangi kualitas capaian kompetensi vokasi yang menjadi ciri khas sekolah kejuruan.
Memasuki pembelajaran tatap muka pada 23 Februari hingga 14 Maret 2026, suasana religius semakin terasa. Setiap pagi diawali dengan tadarus Al-Qur’an dan salat duha, disusul kultum singkat sebelum pelajaran dimulai. Intensitas kegiatan fisik seperti PJOK dan kepanduan disesuaikan agar siswa tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa. Pendekatan ini mencerminkan kepedulian sekolah terhadap kesehatan dan keseimbangan energi siswa.
Menariknya, semangat Ramadan di sekolah ini juga dirajut dalam bingkai toleransi. Siswa non-Muslim tetap mendapatkan bimbingan kerohanian sesuai keyakinannya. Kebersamaan dalam keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa nilai religius yang ditanamkan bukan bersifat eksklusif, melainkan inklusif dan berkeadaban.
Dari sisi manajemen, pengamanan laboratorium, ruang TIK, dan perpustakaan selama libur Idulfitri dilakukan melalui sistem piket penjaga sekolah. Meski monitoring mencatat perlunya penguatan asesmen bagi siswa berkebutuhan khusus serta kanal pelaporan resmi bagi orang tua, evaluasi ini justru menjadi pijakan untuk perbaikan ke depan. Dengan dokumentasi kegiatan yang lengkap dan partisipasi aktif seluruh warga sekolah, Ramadan di SMKN 1 Arse tahun ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menumbuhkan karakter, memperkuat kepedulian, dan merawat nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan pendidikan. (PS/BERMAWI)

