POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL–Suasana kelas di SMA Negeri 2 Plus Sipirok pada Senin, 2 Maret 2026, terasa berbeda dari biasanya. Ratusan siswa mengikuti kegiatan “Bank Indonesia Mengajar” dengan penuh antusias. Materi tentang inflasi, stabilitas rupiah, dan kebijakan moneter yang kerap dianggap rumit, disampaikan dengan pendekatan sederhana dan kontekstual.
Di balik paparan angka-angka ekonomi, tersimpan misi besar: membentuk generasi muda yang cakap finansial dan tangguh menghadapi dinamika ekonomi global.Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari Bank Indonesia Cabang Sibolga sebagai bagian dari program edukasi literasi keuangan nasional. Faruq, yang akrab disapa Mas Faruq, tampil sebagai pengajar utama dengan gaya komunikatif dan interaktif. Bersama Ibu Ruth Br Tobing, ia memaparkan peran bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai rupiah serta mengendalikan inflasi guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Penjelasan mereka menekankan bahwa kebijakan moneter bukan sekadar konsep teoritis, melainkan instrumen strategis yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.Dalam pemaparannya, siswa diajak memahami keterkaitan antara fenomena ekonomi makro dan kehidupan sehari-hari.
Kenaikan harga bahan pokok, perubahan suku bunga, hingga pesatnya transaksi digital dijelaskan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi nasional. Secara ilmiah, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana teori ekonomi makro dapat diinternalisasi melalui pengalaman konkret remaja, seperti pengelolaan uang saku dan kebiasaan konsumsi.
Dengan demikian, siswa mampu melihat bahwa keputusan finansial sederhana memiliki implikasi terhadap stabilitas ekonomi secara lebih luas. Sesi diskusi menjadi ruang dialektika yang dinamis. Pertanyaan seputar pinjaman daring ilegal, investasi bodong, dan keamanan transaksi digital mencerminkan kesadaran kritis generasi muda terhadap risiko ekonomi modern.
Para pemateri menegaskan pentingnya verifikasi legalitas lembaga keuangan melalui otoritas resmi dan membangun literasi digital sebagai bagian dari literasi finansial. Dialog yang terbangun menunjukkan bahwa edukasi ekonomi tidak lagi bersifat satu arah, melainkan kolaboratif dan partisipatif.
Secara akademik, literasi keuangan diakui sebagai salah satu kompetensi esensial abad ke-21. Kemampuan memahami konsep tabungan, investasi, inflasi, serta manajemen risiko berkontribusi terhadap pengambilan keputusan rasional. Dalam forum tersebut, siswa dilatih menyusun prioritas kebutuhan dan keinginan, sekaligus memahami pentingnya menabung secara konsisten.
Pendekatan ini selaras dengan prinsip pendidikan kontekstual yang menekankan integrasi pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter.Momentum kegiatan turut diperkuat dengan optimalisasi Pojok Baca Bank Indonesia di lingkungan sekolah. Fasilitas ini menyediakan literatur ekonomi, majalah edukasi, dan buku-buku kebanksentralan sebagai sumber belajar berkelanjutan. Kehadiran pojok baca tersebut menjadi simbol sinergi antara dunia pendidikan dan otoritas moneter dalam membangun budaya literasi yang berkesinambungan di kalangan pelajar.
Kepala SMA Negeri 2 Plus Sipirok, Akhiruddin Harahap, S.Sos., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa pendidikan modern harus membekali siswa dengan kecakapan hidup yang aplikatif dan berbasis nilai. Melalui sinergi bersama Bank Indonesia, sekolah berharap dapat terus menanamkan integritas, kemandirian, dan kecerdasan finansial. Lebih dari sekadar agenda edukasi, kegiatan ini menjadi investasi karakter—mempersiapkan pelajar menghadapi tantangan ekonomi dengan pengetahuan, tanggung jawab, dan visi masa depan yang matang.(PS/BERMAWI)


