![]() |
| Ketua DPC PIKAD Asahan, Budi Aula Negara, SH |
POSKOTASUMATERA.COM – Asahan - Dorongan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Asahan kian menguat. DPC Pijar Keadilan Demokrasi (PIKAD) Asahan mendesak pemerintah daerah segera melakukan pembenahan serius terhadap pengelolaan pusat pasar tradisional yang dinilai belum optimal.
Revitalisasi pasar tidak lagi bisa dipandang sekadar perbaikan fisik, tetapi harus menjadi langkah strategis untuk menggerakkan roda ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pasar terhadap PAD.
Ketua DPC Pijar Keadilan Demokrasi Asahan, Budi Aula Negara, SH menegaskan bahwa potensi pasar tradisional sebagai sumber pendapatan daerah selama ini belum tergarap maksimal. Padahal, pasar merupakan salah satu urat nadi ekonomi rakyat yang memiliki perputaran transaksi harian cukup besar.
“Jika dikelola dengan baik, pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga mesin penggerak PAD yang sangat potensial,” tegasnya. Kamis, (16/4/2026) di Kisaran
Revitalisasi Bukan Sekadar Renovasi :
Lebih lanjut Budi mengatakan, sejumlah kajian menunjukkan bahwa revitalisasi pasar tradisional harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur, manajemen, hingga sistem pelayanan. Revitalisasi yang tepat terbukti mampu meningkatkan pendapatan pedagang sekaligus memperbaiki tata kelola pasar secara signifikan.
Tidak hanya itu, pembenahan pasar juga berdampak pada peningkatan kenyamanan, keamanan, serta efisiensi sistem retribusi yang pada akhirnya berkontribusi langsung terhadap PAD.
Namun, revitalisasi yang tidak tepat sasaran justru bisa menimbulkan masalah baru, seperti relokasi pedagang yang tidak strategis hingga menurunnya jumlah pengunjung.
Perspektif :
Hal inilah yang menjadi perhatian serius agar kebijakan yang diambil tidak sekadar menghabiskan anggaran, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata.
Masalah Klasik Pasar Tradisional :
DPC Pijar Keadilan Demokrasi menilai, sejumlah persoalan mendasar masih membelit pengelolaan pasar di Asahan, di antaranya :
- Tata kelola yang belum profesional
- Infrastruktur yang kurang memadai
- Penataan pedagang yang semrawut
- Sistem retribusi yang belum optimal
- Minimnya inovasi dan digitalisasi
Pasar tradisional Pemerintah Kabupaten Asahan : Pasar Inpres 1 dan Inpres 2 di jalan Diponegoro, pasar Kartini, pasar Bhakti dan pasar tradisional Air Joman
"Kondisi ini menyebabkan daya saing pasar tradisional terus melemah, terlebih di tengah gempuran pasar modern dan perubahan pola belanja masyarakat, " terangnya
PAD Bisa Melonjak Jika Dikelola Serius :
Revitalisasi pasar diyakini mampu menjadi “game changer” bagi peningkatan PAD. Dengan sistem pengelolaan yang transparan dan modern, pemerintah daerah dapat :
*Mengoptimalkan retribusi pasar
*Menekan kebocoran pendapatan
*Meningkatkan jumlah pengunjung
Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal :
Lebih jauh ia memaparkan, pasar yang tertata dengan baik juga akan menciptakan efek domino terhadap sektor lain, seperti UMKM, transportasi, hingga distribusi barang.
Desakan : Bupati Harus Ambil Langkah Cepat
DPC Pijar Keadilan Demokrasi menegaskan, langkah konkret dari Bupati Asahan sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan ini. Revitalisasi pasar harus masuk dalam prioritas pembangunan daerah, bukan sekadar wacana.
“Ini bukan hanya soal pasar, tetapi soal masa depan ekonomi daerah. Jika dikelola serius, PAD bisa meningkat signifikan,” tegasnya.
Momentum Pembenahan Ekonomi Rakyat :
Revitalisasi pasar tradisional menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Asahan untuk menunjukkan keberpihakan terhadap ekonomi kerakyatan.
Dengan perencanaan matang, berbasis data, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan, pasar tradisional dapat kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi yang modern, tertib, dan berdaya saing.
"PAD kita saat ini dinilai belum sebanding dengan jumlah seluruh Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Asahan. Jika langkah ini dijalankan secara konsisten, bukan tidak mungkin sektor pasar akan menjadi salah satu tulang punggung utama peningkatan PAD Kabupaten Asahan di masa mendatang, " pungkas Budi. (PS/Joko)
