Kepala SMKN 1 Batangtoru Hamonangan Harahap MA
POSKOTASUMATERA.COM – TAPANULI SELATAN — Transformasi pembangunan pendidikan di Indonesia menunjukkan pergeseran paradigma yang signifikan, dari ketergantungan pada Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menuju model yang lebih inovatif dan kolaboratif. Dalam konteks ini, Kepala SMKN 1 Batangtoru, Hamonangan Harahap, MA, tampil sebagai figur pemimpin adaptif yang mampu merespons tantangan tersebut melalui strategi pendanaan alternatif dan penguatan kemitraan lintas sektor.
Langkah strategis yang diambil tidak hanya berfokus pada optimalisasi sumber daya internal, tetapi juga menjalin sinergi dengan dunia industri. Salah satu bentuk konkret dari pendekatan ini adalah kerja sama dengan PT Agincourt Resources, perusahaan pengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru. Kolaborasi ini menjadi model integratif antara sektor pendidikan dan industri dalam mendukung pembangunan infrastruktur sekolah sekaligus meningkatkan relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja.
Lebih jauh, Hamonangan Harahap menekankan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama kemajuan pendidikan. Ia secara konsisten mengikuti berbagai pelatihan nasional, termasuk program Teaching Factory (TEFA) di Cianjur. Melalui pendekatan ini, sekolah mengembangkan pembelajaran berbasis produksi, seperti budidaya jamur tiram yang diolah menjadi produk bernilai jual serta pembibitan kelapa sawit sebagai bagian dari praktik kewirausahaan siswa.
Implementasi Teaching Factory di SMKN 1 Batangtoru terbukti mampu menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri. Siswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang aplikatif dan bernilai ekonomis. Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam memperkuat pendidikan vokasi berbasis kompetensi dan kebutuhan pasar kerja yang dinamis.
Di sisi lain, perluasan jejaring kerja sama juga dilakukan dengan Dinas Tenaga Kerja setempat guna meningkatkan serapan lulusan ke dunia kerja. Program yang dijalankan meliputi pelatihan keterampilan, sertifikasi kompetensi, hingga fasilitasi magang industri. Bahkan, sejumlah lulusan SMKN 1 Batangtoru telah berhasil menembus pasar kerja internasional. Untuk mendukung hal tersebut, siswa dibekali kemampuan bahasa asing seperti Korea, Jepang, Inggris, Jerman, dan Spanyol sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing global.
Dalam aspek tata kelola pembangunan, revitalisasi sekolah dilakukan melalui mekanisme swakelola yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Direktorat SMK dan Komite Sekolah. Model ini dinilai mampu meningkatkan transparansi, efisiensi anggaran, serta memperkuat rasa kepemilikan kolektif terhadap proses pembangunan yang berlangsung.
Revitalisasi SMKN 1 Batangtoru sendiri menjadi agenda prioritas tahun ini sebagai respons atas dampak bencana banjir yang terjadi pada November 2025, yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pendidikan. Dengan kepemimpinan yang visioner, kolaboratif, dan berbasis inovasi, Hamonangan Harahap optimistis bahwa upaya pemulihan ini tidak hanya akan mengembalikan kondisi fisik sekolah, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.(PS/BERMAWI)
