POSKOTASUMATRA.COM | ACEH TENGGARA – Memasuki hari kedua sorotan publik terhadap kasus siswa SMPN 2 Kutacane yang berada di luar sekolah saat jam belajar, tekanan tidak lagi berhenti pada kritik umum. Arah pertanyaan kini mulai mengerucut, menuntut jawaban yang lebih tegas dan terukur dari pemerintah daerah.
Pengamat kebijakan publik Aceh, Dr. Nasrul Zaman, menilai situasi ini tidak bisa lagi dijawab dengan pernyataan normatif yang cenderung berulang. Menurutnya, publik membutuhkan kejelasan langkah, bukan sekadar narasi penenang.
“Publik tidak lagi menunggu klarifikasi, tapi menunggu arah kebijakan yang konkret dan terukur,” ujarnya, menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat kini bergantung pada tindakan nyata, bukan retorika.
Awak media Poskotasumatra kemudian merumuskan tiga pertanyaan kunci yang secara langsung ditujukan kepada H. M. Salim Fakhry. Pertanyaan ini dinilai sebagai bentuk kontrol sosial agar pemerintah daerah tidak lagi bersikap pasif dalam menyikapi persoalan pendidikan, Kamis (23/04/2026).
Pertama, apa langkah konkret yang sudah diambil untuk memastikan siswa tidak lagi keluar saat jam belajar. Kedua, apakah sudah ada evaluasi internal terhadap Kepala Dinas Pendidikan terkait lemahnya pengawasan di sekolah. Ketiga, dalam jangka waktu berapa lama hasil evaluasi tersebut akan disampaikan secara terbuka kepada publik.
Sebagai bagian dari fungsi kontrol, tiga pertanyaan ini ditegaskan bukan sekadar formalitas, melainkan indikator sederhana untuk mengukur keseriusan pemerintah daerah dalam merespons persoalan yang dinilai berulang dan mencederai disiplin dunia pendidikan.
Di sisi lain, upaya konfirmasi langsung juga telah dilakukan. Awak media Poskotasumatra mendatangi SMPN 2 Kutacane untuk berjumpa dengan kepala sekolah guna meminta penjelasan terkait siswa yang berkeliaran pada jam belajar. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil, karena pihak kepala sekolah tidak berhasil ditemui saat hendak dimintai keterangan.
“Kalau ada langkah, seharusnya bisa dijelaskan secara terbuka. Kalau belum ada, publik juga berhak tahu sejauh mana prosesnya berjalan,” menjadi penegasan sikap awak media, sekaligus dorongan agar ruang transparansi tidak tertutup oleh alasan birokrasi.
Kasus ini sendiri mencuat setelah siswa terpantau berada di luar lingkungan sekolah pada pukul 10.50 WIB saat proses belajar mengajar berlangsung. Fakta tersebut kini menjadi titik tekan publik untuk menguji apakah sistem pengawasan pendidikan benar-benar akan diperbaiki, atau kembali berakhir tanpa arah yang jelas. (PS/ASP)

