Pimpinan Ponpes Marhatilah Pilhanuddin Hasibuan LC Besera Istri,Ustazd dan usttazah besera Santriwan santriwati Foto bersama usai menerima Iijazah
POSKOTASUMATERA.COM – ANGKOLA BARAT –Suasana haru, khidmat, dan penuh nuansa spiritual menyelimuti acara penamatan santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Mardhatillah Angkatan VII Tahun 2026 yang digelar pada Selasa (19/05/2026), bertepatan dengan 02 Zulhijjah 1447 Hijriah. Mengusung tema “Akhir Perjalanan Ma’had, Awal Pengabdian untuk Ummat”, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam menandai berakhirnya proses pendidikan formal para santri sekaligus awal pengabdian mereka kepada agama, bangsa, dan masyarakat.
Acara yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Mardhatillah, Tano Ponggol, Kelurahan Sitinjak, Kecamatan Angkola Barat itu dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat dan tokoh agama. Tampak hadir pimpinan pondok pesantren beserta keluarga, Ketua MUI, Kepala KUA, unsur pemerintahan kelurahan, pengurus Majelis Taklim Pagi Mardhatillah, wali santri, hingga masyarakat sekitar. Kehadiran para tamu undangan menjadi simbol dukungan terhadap eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang konsisten membentuk generasi muda berakhlakul karimah dan memiliki wawasan keilmuan yang kuat.
Kegiatan penamatan berlangsung meriah dengan berbagai penampilan seni Islami dari para santriwan dan santriwati. Pertunjukan habsyi dan hadroh yang dibawakan dengan penuh semangat berhasil memukau para hadirin. Nuansa religius yang dibalut kekompakan para santri menciptakan atmosfer yang hangat dan membanggakan. Bahkan, sejumlah orang tua tampak memberikan saweran sebagai bentuk apresiasi atas penampilan anak-anak mereka. Tradisi tersebut menjadi gambaran eratnya hubungan emosional antara keluarga dan pesantren dalam mendidik generasi penerus umat.
Momen paling menyentuh terjadi pada sesi “Hati ke Hati”, ketika para santri menghampiri kedua orang tua mereka. Dengan diiringi lantunan lagu-lagu religi, para santri memeluk ayah dan ibu mereka sambil menitikkan air mata haru. Suasana berubah penuh emosional ketika tangisan pecah di berbagai sudut ruangan. Momentum tersebut menjadi refleksi mendalam tentang perjuangan panjang para orang tua dalam mendampingi pendidikan anak-anak mereka di pesantren. Secara ilmiah, pendidikan berbasis pesantren memang dikenal tidak hanya menanamkan kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat kecerdasan spiritual, emosional, serta nilai penghormatan kepada orang tua dan guru.
Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Pesantren Mardhatillah, Pilhanuddin Hasibuan LC menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh wali santri yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pesantren. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses pembelajaran masih terdapat kekurangan dalam pelayanan maupun penyampaian ilmu. Menurutnya, proses pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pesantren dan keluarga dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan rendah hati.
“Tanamkan dalam hati bahwa pintu Mardhatillah akan selalu terbuka untuk ananda sekalian. Walaupun sudah tamat, jangan pernah sombong dan tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati. Kami berharap ilmu yang diperoleh di pesantren ini dapat menjadi bekal kesuksesan dunia dan akhirat,” ungkapnya dengan penuh haru di hadapan para hadirin.
Perwakilan santriwan, Ahmad Sandri Sihombing menyampaikan rasa terima kasih kepada para ustaz dan ustazah yang telah mendidik mereka selama enam tahun dengan penuh kesabaran. Ia mengakui bahwa para santri kerap melakukan kesalahan, namun para guru tetap membimbing mereka dengan kasih sayang dan keteladanan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada kedua orang tua atas segala perjuangan dan pengorbanan selama membiayai pendidikan mereka di pesantren.
Hal senada juga disampaikan perwakilan santriwati, Devi Kharani Simatupang yang mengungkapkan rasa haru dan permohonan maaf kepada para buya dan ummi atas sikap maupun tutur kata yang kurang berkenan selama masa pendidikan. Ia menegaskan bahwa tanpa bimbingan para guru, para santri tidak akan mampu memahami ilmu agama, hukum Islam, serta sejarah Islam secara mendalam.Dengan penuh harapan, ia meminta doa agar seluruh lulusan Pondok Pesantren Mardhatillah dapat menjadi generasi saleh dan salehah yang mampu mengabdikan diri untuk agama, bangsa, dan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut juga diumumkan Juara Umum Santriwan diraih oleh Alwi Miftahul Rizki Harahap dan Juara Umum Santriwati diraih oleh Liliana Siregar. Acara kemudian ditutup dengan prosesi penyematan selempang dan penyerahan ijazah kepada santriwan dan santriwati kelas XII sebagai tanda telah selesainya proses pendidikan mereka di Pondok Pesantren Mardhatillah. Prosesi tersebut menjadi simbol lahirnya generasi muda Islam yang siap melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan akhlak mulia. (PS/BERMAWI)



