RIZKA AMALIA: Bumi Rusak, Kita Estetik . Sudahkah Anak Muda Aceh Benar-Benar Peduli

/ Senin, 01 Juni 2026 / 12.26.00 WIB
Dokumen Istimewa 

POSKOTASUMATRA.COM|BANDA ACEH —Aceh bukan daerah yang asing dengan bencana. Banjir masih sering terjadi di beberapa daerah, pembukaan lahan terus berjalan, dan suhu terasa semakin panas dari tahun ke tahun. Semua ini bukan sekadar berita, ini realita yang kita lihat dan rasakan sendiri. Sebagai bagian dari Gen Z, saya melihat ada hal yang perlu kita akui yaitu kita sadar, tapi belum tentu peduli sepenuhnya.

Di media sosial, isu lingkungan sering jadi pembahasan. Kita cepat mengomentari soal banjir, sampah, atau kerusakan hutan. Bahkan banyak juga yang sudah mulai menunjukkan gaya hidup “ramah lingkungan”. Tapi di kehidupan sehari-hari, kebiasaan kita sering berbeda. Masih banyak dari kita yang buang sampah sembarangan, terutama di selokan atau pinggir jalan. 

Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai masih tinggi, dan kebiasaan hemat listrik atau air belum jadi prioritas. Hal-hal ini terlihat kecil, padahal memiliki dampak besar kalau 

dilakukan terus-menerus. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa persoalan sampah di Indonesia terus meningkat setiap tahun, dan pengelolaannya masih jadi tantangan di banyak daerah, termasuk Aceh. Ini artinya, masalah lingkungan bukan hanya soal pemerintah, tapi juga kebiasaan masyarakat. 

Di sisi lain, tren peduli lingkungan juga makin terlihat di kalangan anak muda. Contohnya seperti membawa tumbler, memakai tote bag, atau ikut serta dalam kegiatan kepedulian lingkungan. Ini tentu langkah baik. Tapi pertanyaannya, apakah itu sudah cukup? Jangan sampai kepedulian kita hanya berhenti di tampilan. Karena etika lingkungan bukan soal apa yang terlihat, tapi apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat.

Konsep infermental etik mengingatkan kita bahwa etika itu hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Bukan sesuatu yang besar dan sulit, tapi justru hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Seperti tidak buang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, 

dan menjaga lingkungan sekitar.Aceh memiliki kekayaan alam yang berlimpah, dari hutan hingga laut. Tapi kalau tidak dijaga, semua itu bisa hilang perlahan. Kita tidak bisa hanya menyalahkan pihak lain, sementara kebiasaan kita sendiri masih merusak. Gen Z dikenal sebagai generasi yang kritis dan vokal. Kita berani bicara soal perubahan. Tapi perubahan tidak cukup hanya dengan suara, ia butuh tindakan nyata.

Beretika terhadap lingkungan berarti berani mulai dari diri sendiri, bahkan dari hal kecil. Karena pada akhirnya, bumi tidak butuh generasi yang sekadar terlihat peduli. Bumi butuh generasi yang benar-benar mau bertanggung jawab.(PS|IMAM)

Komentar Anda

Terkini: