Kiri ke Kanan : Dr. Ir. Eddiwan, M.Sc (Ketua STPK Matauli), Masinton Pasaribu, SH, MH (Bupati Tapanuli Tengah), Prof.Dr.Ir. Rokhmin Dahuri, MS (Anggota Komisi IV DPR RI), dan Fitri Krisnawati Tandjung, BSc (Ketua Pengawas Yayasan Matauli)
POSKOTASUMATERA.COM-TAPANULI TENGAH –" Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi negara maju pada 2045. Kuncinya adalah kemampuan mengelola potensi kelautan secara berkelanjutan melalui konsep Blue Economy (Ekonomi Biru) yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan".
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri, saat menjadi pembicara utama pada Kuliah Umum (Studium Generale) bertema "Positioning Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045", yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli di Aula STPK Matauli, Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kamis (9/7/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, akademisi, pemerintah daerah, serta mitra strategis, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa Indonesia dianugerahi modal pembangunan yang sangat lengkap. Mulai dari bonus demografi dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, posisi geoekonomi dan geopolitik yang strategis, hingga karakteristik sebagai negara kepulauan terbesar yang menyimpan potensi ekonomi kelautan bernilai sangat besar.
Indonesia memiliki semua modal dasar untuk menjadi negara maju, adil, makmur, dan berdaulat. Yang dibutuhkan adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara cerdas, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan sehingga mampu melahirkan bangsa yang tangguh, mandiri, dan inovatif," ujar Prof. Rokhmin.
Ia menjelaskan bahwa ekonomi biru bukan sekadar konsep pembangunan sektor kelautan, melainkan paradigma pembangunan masa depan yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.
Ekonomi biru adalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut dan perairan tanpa merusak lingkungan. Tujuan akhirnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut bagi generasi mendatang," tegasnya.
Menurut Prof. Rokhmin, keberhasilan Indonesia membangun ekonomi biru sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, integritas, kemampuan riset, inovasi, serta kepemimpinan untuk menjawab tantangan pembangunan maritim nasional.
Momentum tersebut sekaligus menjadi penegasan posisi STPK Matauli sebagai perguruan tinggi yang fokus mencetak generasi profesional di bidang kelautan dan perikanan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pembina Yayasan Matauli Akbar Tandjung, Ketua Pengawas Yayasan Matauli Fitri Krisnawati Tandjung, Ketua Umum Yayasan Matauli Triana Krisandini Tandjung, Ketua STPK Matauli Eddiwan, Masinton Pasaribu, Pimpinan DPRD Tapanuli Tengah, Koordinator Kampus Matauli sekaligus Kepala SMA Negeri 1 Matauli Pandan, unsur Forkopimda Kabupaten Tapanuli Tengah, pimpinan perusahaan, serta perwakilan perguruan tinggi mitra dan sahabat.
Dalam sambutannya, Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Ketua Pembina Yayasan Matauli, Akbar Tandjung, atas komitmen dan dedikasinya yang konsisten dalam membangun dunia pendidikan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Menurutnya, kehadiran STPK Matauli menjadi bukti nyata dari visi besar yang telah dirintis sejak awal untuk menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas di bidang kelautan dan perikanan.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah memberikan penghargaan kepada Bapak Akbar Tandjung atas komitmen yang kuat dalam memajukan pendidikan di daerah ini. STPK Matauli merupakan investasi besar bagi masa depan Tapanuli Tengah karena mencetak sumber daya manusia unggul yang akan mengelola potensi kelautan dan perikanan daerah," ujar Masinton.
Masinton menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah akan terus memperkuat kolaborasi dengan STPK Matauli dalam mendukung pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat merupakan fondasi penting untuk mengoptimalkan potensi sumber daya pesisir dan laut yang dimiliki Tapanuli Tengah.
"Kami siap berkolaborasi dengan STPK Matauli melalui berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan inovasi di bidang kelautan dan perikanan. Kami berharap STPK Matauli menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan Tapanuli Tengah sebagai daerah maritim yang maju, mandiri, dan berdaya saing," katanya.
Sementara itu, Ketua Pengawas Yayasan Matauli, Fitri Krisnawati Tandjung, mengungkapkan bahwa berdirinya STPK Matauli merupakan hasil dari sebuah visi besar yang telah dirintis beberapa tahun silam. Ia menceritakan bahwa Akbar Tandjung pernah mengajak Prof. Rokhmin Dahuri berdiskusi mengenai pentingnya menghadirkan perguruan tinggi yang secara khusus mengembangkan bidang kelautan dan perikanan di Tapanuli Tengah, wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya pesisir dan laut yang sangat potensial.
Apa yang dahulu hanya berupa gagasan, hari ini telah berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi yang melahirkan sumber daya manusia maritim.
"STPK Matauli telah mewisuda empat angkatan alumni yang kini mulai berkontribusi melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat pesisir di Tapanuli Tengah," ujar Fitri.
Menurut Fitri, keberadaan STPK Matauli bukan hanya bertujuan menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kelautan dan perikanan di Indonesia.
Ia berharap kehadiran Prof. Rokhmin Dahuri mampu membangkitkan optimisme mahasiswa agar terus mengembangkan kapasitas diri dan mengambil bagian dalam pembangunan sektor maritim nasional.
Kuliah umum ini kami harapkan menjadi pembakar semangat bagi mahasiswa untuk terus belajar, berinovasi, serta memiliki keyakinan bahwa mereka adalah generasi yang akan memimpin pembangunan ekonomi biru Indonesia menuju Indonesia Emas 2045," tuturnya.
Kuliah umum berlangsung dinamis dengan sesi diskusi yang interaktif. Mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung mengenai tantangan pembangunan kelautan nasional, pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, serta peluang karier di sektor perikanan dan ekonomi maritim.
Melalui penyelenggaraan Studium Generale ini, STPK Matauli kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pendidikan tinggi kelautan dan perikanan yang menghasilkan lulusan berdaya saing, berintegritas, serta mampu menjawab kebutuhan pembangunan ekonomi biru Indonesia. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia sekaligus mencapai visi Indonesia Emas 2045. (PS/SAHAT)