Kakao Aceh Mendunia, Azanuddin Kurnia: Petani Jangan Hanya Jadi Penonton Hilirisasi

/ Sabtu, 08 Agustus 2026 / 14.37.00 WIB

POSKOTASUMATRA.COM | ACEH TENGGARA – Bukan sekadar tanaman perkebunan, kakao telah menjadi denyut ekonomi bagi puluhan ribu keluarga di Kabupaten Aceh Tenggara. Karena itu, pengembangan komoditas kakao dinilai harus terus diperkuat, mulai dari budidaya hingga pengolahan agar nilai tambahnya kembali lebih besar kepada petani.

Hal tersebut disampaikan Bupati Aceh Tenggara, M. Salim Fakhry, saat membuka Lokakarya Duek Pakat Kakao Aceh XIII yang berlangsung di Oproom Setdakab Aceh Tenggara, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Salim Fakhry, kakao memiliki posisi strategis dalam menopang perekonomian masyarakat Aceh Tenggara. Keberadaan komoditas tersebut tidak hanya memberikan penghasilan bagi petani, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai sektor.

 "Komoditas kakao bukan sekadar tanaman perkebunan bagi masyarakat Aceh Tenggara, tetapi telah menjadi salah satu penopang perekonomian," ujar Salim Fakhry.

Lokakarya yang mengusung tema “Revitalisasi Kakao Aceh Berbasis Agroforestry Berkelanjutan Menuju Hilirisasi Tangguh” tersebut menjadi ruang bersama untuk membahas masa depan kakao Aceh, khususnya dalam memperkuat sektor hulu hingga hilir.

Salim Fakhry mengatakan, pengembangan kakao tidak cukup hanya berhenti pada peningkatan produksi. Menurutnya, penguatan kualitas, rantai pasok dan hilirisasi menjadi bagian penting agar komoditas kakao mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Ia juga mengaku bangga terhadap kualitas biji kakao yang dihasilkan petani Aceh Tenggara, bahkan telah mendapatkan pengakuan di tingkat internasional.

 "Kita patut bangga dengan kualitas biji kakao Aceh Tenggara yang telah mendapat pengakuan di tingkat internasional. Karena itu, keberlanjutan perkebunan kakao harus kita jaga bersama, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan," katanya.

Di sisi lain, Bupati menekankan pentingnya membangun rantai pasok kakao yang lebih kuat dan berkeadilan. Hilirisasi, kata dia, harus mampu memberikan manfaat nyata kepada petani sebagai pelaku utama perkebunan kakao.

 "Rantai pasok dan hilirisasi kakao juga perlu diperkuat agar memberikan manfaat yang lebih besar dan adil bagi petani," ujarnya.


Distanbun Aceh Dukung Penguatan Kakao


Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Duek Pakat Kakao Aceh XIII.

Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, mitra pembangunan, pelaku usaha, petani dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan kakao Aceh.

 "Distanbun Aceh sangat mendukung kegiatan ini karena merupakan bagian dari kolaborasi bersama para mitra dan narasumber," kata Azanuddin.

Ia berharap kolaborasi yang terbangun melalui forum tersebut dapat melahirkan langkah konkret untuk meningkatkan daya saing komoditas kakao Aceh, sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai nilai komoditas tersebut.


Dihadiri Sejumlah Tokoh


Lokakarya tersebut turut dihadiri Ketua DPRK Aceh Tenggara Deni Febrian Roza, Kapolres Aceh Tenggara AKBP Rujiyanto Dwi Purnomo, Sekda Aceh Tenggara Yusrizal, para asisten, camat dan kepala OPD.

Hadir pula anggota DPRA Yahdi Hasan Ramud, Kepala Cabang Bank Aceh Doni Rachman, Kepala Distanbun Aceh Azanuddin Kurnia, perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat, Direktur BPDLH Joko Tri Haryanto, serta Ketua Umum Forum Kakao Aceh (FKA) Lilis Indriansyah.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi dalam mendorong revitalisasi kakao Aceh berbasis agroforestri berkelanjutan serta membuka peluang hilirisasi yang lebih tangguh dan memberikan nilai tambah bagi petani.(PS/ASP) 


Komentar Anda

Terkini: