POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL — Proses penggenangan Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) memasuki tahapan penting. Momentum tersebut ditandai dengan pelaksanaan tradisi manyantan yang digelar PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) di area perkantoran PLTA Simarboru, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (13/8/2026) petang.
Tradisi manyantan menjadi bagian dari momentum penting dalam perjalanan pembangunan infrastruktur energi tersebut. Selain memiliki makna budaya bagi masyarakat setempat, kegiatan ini juga merefleksikan harapan agar setiap tahapan pekerjaan berjalan aman, lancar, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan daerah dan pemenuhan kebutuhan energi.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, hadir bersama Wakil Bupati Jafar Syahbuddin Ritonga. Kehadiran pimpinan daerah tersebut menunjukkan perhatian Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan terhadap perkembangan proyek strategis di wilayahnya, khususnya pembangunan infrastruktur energi yang memiliki keterkaitan dengan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Tapanuli Selatan, di antaranya Kepala Kejaksaan Negeri Tapanuli Selatan, Dandim 0212/Tapanuli Selatan, Kapolres Tapanuli Selatan yang diwakili Kabag Ops, Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Sofyan Adil, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta jajaran PT NSHE selaku pengembang PLTA Batang Toru.
Secara teknis, penggenangan bendungan merupakan salah satu tahapan krusial dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air. Tahapan ini membutuhkan kesiapan konstruksi, pengawasan keselamatan, pengelolaan lingkungan, serta koordinasi lintas sektor agar proses berlangsung sesuai standar teknis dan ketentuan yang berlaku. Karena itu, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam memastikan setiap tahapan dapat dilaksanakan secara terukur.
PLTA Batang Toru dengan kapasitas 510 MW diharapkan dapat memperkuat sistem kelistrikan sekaligus mendukung kebutuhan energi di Sumatera Utara. Di sisi lain, keberadaan proyek tersebut juga menuntut komitmen terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan, termasuk pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, keselamatan kerja, dan komunikasi yang konstruktif dengan seluruh pihak yang berkepentingan.
Pelaksanaan tradisi manyantan akhirnya menjadi simbol perpaduan antara kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur energi, dan kearifan lokal. Momentum tersebut diharapkan menjadi penanda dimulainya tahapan baru PLTA Batang Toru dengan semangat kehati-hatian, keselamatan, dan kebermanfaatan. Pemerintah daerah, masyarakat, serta PT NSHE diharapkan terus memperkuat sinergi sehingga pembangunan energi dapat memberikan kontribusi positif bagi Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara secara berkelanjutan. (PS/BERMAWI)

