Meneladani Jejak Sang Legendaris : Refleksi Perjalanan Hidup Ungkap Siahaan, Maestro Jurnalistik Senior Dan Politikus Kharismatik Asahan

/ Selasa, 03 November 2026 / 12.20.00 WIB


POSKOTASUMATERA. Com - Asahan - ​Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat, keteladanan dari para tokoh senior sering kali menjadi kompas moral bagi generasi penerus. 

Di Kabupaten Asahan, nama Ungkap Siahaan melekat kuat sebagai salah satu pilar sejarah pers atau wartawan lokal.

​Memulai pengabdiannya di dunia jurnalistik sejak era 1970 an melalui media koran harian Sinar Harapan, perjalanan karier Ungkap Siahaan membentang luas hingga koran harian legendaris Sinar Indonesia Baru (SIB). 

Tak berhenti di bilik redaksi, ia kemudian mengabdikan diri di panggung politik sebagai anggota DPRD Kabupaten Asahan selama dua periode, dimulai sekitar tahun 1992, melalui bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).

​Filosofi Jurnalisme dan Seni Penempatan Diri : 

​Ditemui di salah satu warung kopi legendaris yang terletak berdampingan dengan Kantor Pos Parasamya, Kelurahan Lestari, Kecamatan Kota Kisaran Timur Kabupaten Asahan. Selasa, (3/11/2026). 

Sosok Ungkap Siahaan, yang kini telah menginjak usia 83 tahun, tampak tetap memancarkan energi dan wibawa seorang pemikir sebagai sang maestro jurnalis senior.

​Dalam bincang bincang hangat tersebut, ia menegaskan bahwa esensi utama dunia kewartawanan terletak pada keluasan wawasan dan keluwesan relasi sosial.

​"Dalam dunia jurnalistik, tidak mengenal batasan pergaulan serta relasi. Baik di tengah kalangan masyarakat akar rumput, para pengusaha, aparat penegak hukum, hingga jajaran birokrasi pemerintahan. Seorang jurnalis harus mampu merangkul semuanya," tutur Ungkap.

​Namun, ia juga memberikan catatan penting sekaligus peringatan filosofis. 

Menurutnya, fleksibilitas dalam bergaul harus senantiasa diiringi dengan kebijaksanaan moral. Seorang jurnalis dituntut pandai menempatkan diri agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran yang dapat mencederai integritas profesi.

​"Tetap jaga kode etik pers dan junjung tinggi asas praduga tak bersalah. Hormati orang lain dan para seniormu. Sebab, godaan terberat dalam profesi ini sesungguhnya datang dari dalam hati dan pikiran kita sendiri. Jadilah insan pers yang profesional," pesannya dengan penuh penekanan.

​Dikenal luas sebagai figur yang ramah, bersahaja, dan senantiasa royal membagikan ilmu serta pengalaman, Ungkap Siahaan telah bertransformasi menjadi mentor sekaligus panutan sejati bagi insan pers di Kabupaten Asahan.

​Mengenang Para Penjaga Kebenaran : 

Maestro Pers Asahan. 

​Refleksi atas perjalanan panjang dunia pers di Asahan tentu tidak akan lengkap tanpa mengenang para tokoh pendahulunya. 

Mereka adalah para ksatria pena yang telah mendedikasikan hidupnya untuk merawat informasi dan menegakkan kebenaran di Bumi Rambate Rata Raya :

* ​Almarhum Datuk Armansyah (Harian Analisa)

* Almarhum Zubir Batu Bara (Harian Bukit Barisan) 

* Almarhum H. Sutrisman (Pendiri Asahan Pos) 

* ​Almarhum Horas Simanjuntak (Harian SIB)

* ​Almarhum Abu Bakar Nasution (Harian Waspada)

* ​Almarhum Nasir Tarigan (Mingguan Dobrak)

* ​Almarhum Syamsir Nasution (Harian Sinar Pembangunan)

* ​Almarhum Selamat Riadi (Harian Medan Pos)

* ​Almarhum Dance Hasibuan (Harian Medan Pos)

* ​Almarhum Tahi Situmorang (Harian SIB)

* ​Almarhum Esmar Siagian (Harian SIB)

* ​Almarhum Karim Nehe (Harian Waspada)

* Almarhum Saut Sitompul (Harian Mimbar Umum)

* Almarhum Herman Sihotang ( Harian Bukit Barisan) 

* Almarhum Tatan Thabib (Harian Mandiri) 

* ​Almarhum Firma Pane (Harian Portibi).

* Almarhum Pak Uya (Harian Waspada) 

* Almarhum Suwandi Barlen (Pendiri Asahan Pos) 

* Almarhum Syamsul Bahri Sirait ( Asahan Pos) 

* Almarhum Hasan Maksum Nasution (Mingguan Taruna Baru) 

* Almarhum Erwan Daulay (Harian Pos Metro) 

* Almarhum Irvan Nasution (Harian Pos Metro)

* Almarhum Mariadi (Harian Metro Asahan) 

* Almarhum Syahrizal Rani (Bagong) 

* Almarhum Ucok Zasnis (Harian Mandiri) 

* Heru Sihotang (Harian Realitas) 

* Abdul Rahman/abang (Gebrak) 

* Dan lain lain. 

K​ehadiran para tokoh ini, bersama dedikasi hidup yang ditunjukkan oleh Ungkap Siahaan, menjadi warisan intelektual dan moral yang tak ternilai harganya. 

Mereka telah membuktikan bahwa pena bukan sekadar alat merangkai kata, melainkan instrumen terhormat untuk membangun peradaban bangsa.

Penulis memohon maaf apabila ada penyebutan nama nama almarhum rekan juang wartawan/jurnalis Asahan salah atau yang belum disebut satu persatu namanya. (PS/Joko).

Komentar Anda

Terkini: