Suku Bonai, Suku Asli Provinsi Riau yang Jarang Tersentuh Pembangunan

/ Jumat, 01 Juli 2022 / 22.14.00 WIB

 


POSKOTASUMATERA.COM.RIAU - Suku Bonai merupakan salah satu dari banyak suku tua di Provinsi Riau. Lokasi mereka cenderung terpencil, terisolasi dan uniknya, menguasai beberapa bahasa tak hanya bahasa asli suku mereka, tetapi juga Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Riau dan bahkan bahasa asing. Meski begitu, masyarakat umum kerap mengaggap mereka sebagai suku yang primitif dan terpencil.
Masyarakat Suku Bonai tinggal jauh di pedalaman Sungai Rokan. Lokasi yang terisolir ini sulit dijangkau dan terisolasi sosial. Mereka hidup dengan cara berpindah-pindah (nomaden), perikanan dan meramu. Kondisi ini menyebabkan Masyarakat Suku Bonai nyaris tidak tersentuh oleh pembangunan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau.

Beberapa studi berkeinginan untuk menjaga keaslian bahasa asli Suku Bonai agar tidak hilang tergerus zaman, seperti kajian oleh Ruswan (1984) yang meneliti struktur bahasa, Zainal Abidin (2011) yang meneliti kata sapaan dan Yance (2017) yang mengkaji vitalitas bahasa. Namun demikian, kajian seperti ini masih sangat minim dan terbatas. Studi-studi terkait juga kerap dilakukan untuk menjaga adat-istiadat Suku Bonai, salah satunya tradisi Lukah Gilo.

Menurut beberapa kajian di atas, Suku Bonai menggunakan bahasa asli mereka terbatas terbatas pada bahasa sehari- hari di rumah, kepada relasi sosial terdekat, bekerja kasar dan karya sastra daerah. Sementara untuk beribadah di Masjid/Gereja, penulisan surat, sekolah, dan lain-lain yang memiliki prestise (gengsi).

Salah datu tradisi yang cukup terkenal dari masyarakat Suku Bonai adalah tradisi Lukah Gilo. Secara etimologi, Lukah merupakan alat penangkap ikan yang terbuat dari Rotan, sedangkan Gilo merupakan kata asli suku Bonai yang berarti Gila.

Menurut mereka, ritual Lukah Gilo ini merupakan ekspresi dari hubungan antara manusia yang dapat dilihat secara kasat mata dengan alam gaib. Sebelum kedatangan islam dan konversi masyarakat Suku Bonai menjadi muslim pun, mereka telah meyakini adanya alam gaib dan kerap melakukan pemujaan terhadap jembalang-jembalang (makhluk gaib) untuk mengobati penyakit, menurunkan hujan dan lain sebagainya, pada masa animisme.

Lukah, sekilas, berbentuk seperti orang-orangan sawah. Dengan tempurung kelapa sebagai kepala dan badannya atau lukahnya yang terbuat dari rotan. Lukah ini kemudian akan dimantrai oleh Bomo (dukun) sehingga dapat bergerak 'menggila'. Mantera yang digunakan adalah Pembukaan doa, Shalawat kepada Nabi Muhammad saw, dua kalimat syahadat, kemudian pantun-pantun dalam bahasa asli Suku Bonai. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh ajaran agama Islam terhadap budaya dan sosial masyarakat Suku Bonai. Bomo kemudian akan memegangi Lukah yang bergerak perlahan, setelah pergerakan Lukah menjadi semakin kuat, Bomo akan memanggil asistennya dan beberapa orang penonton untuk membantu mengontrol pergerakan dari Lukah.

Masih banyak aspek budaya dan sosial yang perlu dikaji mengenai masyarakat Suku Bonai. Sebagai suku yang dinilai banyak pihak sebagai Proto Melayu (Melayu Tua), kajian-kajian terkait diperlukan untuk melestarikan adat dan budaya khas Suku Bonai. Sebagai suku pedalaman yang sangan terisolasi dari dunia luar, Suku Bonai tentunya memerlukan perhatian lebih dari Pemerintah dan Masyarakat Provinsi Riau pada umumnya.(PS/NURMAN)


Komentar Anda

Terkini: