![]() |
| Aryo Wibisono, Asisten Manager Supply Chain dan Pelayanan Publik, Kacab Bulog Pematangsiantar.(foto: Firma) |
PEMATANGSIANTAR - Bulog Kantor Cabang Pematangsiantar telah menyerap sebanyak 5200 ton Gabah Kering Panen (GKP) petani periode Januari - Mei 2025.
Hal tersebut dikatakan Pimpinan Kantor Cabang Bulog Pematangsiantar Matius Sitepu, melalui Asisten Manager Supply Chain dan Pelayanan Publik (SCPP) Aryo Wibisono kepada media ini, di Kantornya, Kamis (15/5/2025).
Aryo menjelaskan, dari bulan Januari- Mei 2025 pihak Bulog telah menyerap Gabah Kering Panen sebanyak 5200 ton dari petani di 6 Kabupaten/Kota di wilayah kerja Bulog Pematangsiantar yakni Kota Pematangsiantar, Kabupaten Simalungun,Toba, Samosir, Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan dengan harga Gabah Kering Panen sebesar Rp.6500 per kilogram, dan yang terbanyak hingga saat ini merupakan serapan dari Kota Pematangsiantar, Kabupaten Toba dan Kabupaten Simalungun," jelas Aryo.
Ia juga menyampaikan, adapun penetapan harga pembelian gabah tersebut bertujuan untuk menjaga harga gabah tetap stabil demi kesejahteraan masyarakat petani dan memberikan harga yg baik di tingkat petani.
Aryo menambahkan, untuk menyerap gabah dari petani, pihaknya berkoordinasi dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian serta Babinsa dari Koramil setempat.
Untuk menyerap gabah tersebut, kita terlebih dahulu berkoordinasi dengan PPL maupun Babinsa, setelah mereka berkoordinasi dengan masyarakat petani, kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang ingin menjual gabahnya ke Bulog, selanjutnya pihak terkait akan berkoordinasi ke pihak bulog utk memberikan informasi perihal lokasi, estimasi jumlah dan waktu penjemputan (penyerapan) gabah yg telah direncanakan, lalu kita langsung turun ke lokasi untuk melakukan pembelian gabah tersebut sesuai jadwal yg telah di dilaporkan kepada pihak Bulog.
Terkait perihal pembayaran, kita lakukan secara langsung di lokasi serap setelah selesai melakukan penimbangan, untuk pembayaran juga dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara tunai maupun secara transfer ke rekening petani/poktan/gapoktan," terang Aryo.
Menurut Aryo, ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah penyerapan dilapangan, salah satunya yaitu para petani tidak dapat menjual gabahnya ke Bulog dikarenakan para petani tersebut sudah memiliki keterikatan pinjaman kepada para agen atau tengkulak.
Hal seperti itulah yang kerap kita temui dilapangan, namun jika tengkulak ataupun kilang penggilingan menaikkan harga gabah, tentu itu bagus untuk masyarakat petani, karena tujuan program pemerintah ini dalam menyerap gabah petani adalah untuk menjaga harga gabah tetap stabil demi kesejahteraan petani,," ungkap Aryo.
Harapan kita, agar program ini dapat terus berkelanjutan, jika masyarakat petani ingin menjual gabahnya ke Bulog, kita siap langsung menyerap ke lokasi, dan kualitas gabah kita harapkan yang terbaik," pungkas Aryo.(PS/FIS)
