POSKOTASUMATERA.COM-TAPSEL-Dalam balutan semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini, Jumat 2 Mei 2025, SMAN 1 Sipirok membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang angka dan teori. Diprakarsai oleh kepala sekolah visioner, Marsundut Siregar, S.Pd. M. Si sebuah kebanggaan budaya yang hampir sirna kini kembali bergema: Tortor Angkola.
Tortor — tarian sakral masyarakat Angkola — kembali menari-nari di udara Smansa Sipirok. Berpadu dengan iringan musik tradisional dan lantunan onang-onang yang sarat nilai, gerakannya yang berirama pelan namun bertenaga menghanyutkan siapa saja yang menyaksikan. Di tengah arus zaman yang deras, keindahan Tortor seakan menjadi oase yang mengingatkan pada akar jati diri bangsa.
Berangkat dari keprihatinannya melihat generasi muda yang mulai asing terhadap warisan leluhur, Marsundut Siregar — yang meski berdarah Toba, namun mencintai semua budaya Nusantara — menggerakkan langkah besar: menghidupkan kembali Tortor di jantung sekolah. Persiapan singkat tak mengurangi kemegahan penampilan. Justru, dengan ketulusan dan kerja keras, para siswa menghadirkan pertunjukan yang memukau.
Halaman Smansa Sipirok seolah bergetar. Derap langkah para penari, denting alat musik tradisional, dan gemuruh suara onang-onang membangkitkan suasana magis yang sulit dilukiskan kata. Para siswa tampil anggun, percaya diri, memancarkan kebanggaan terhadap warisan budaya Angkola. Setiap gerakan Tortor yang mengalun di panggung menjadi bukti hidup bahwa budaya ini masih bernafas dalam dada generasi muda.
Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi pembelajaran jiwa. Para siswa, guru, disuguhkan pengalaman berharga: menyelami makna mendalam tentang betapa pentingnya menjaga warisan budaya di tengah modernitas.
Kepala SMAN 1 Sipirok, Marsundut Siregar, mengungkapkan harapannya dengan penuh semangat, "Saya ingin Tortor ini tidak hanya menjadi tontonan sesaat. Saya bermimpi kelak budaya Angkola bisa berakar kuat dalam keseharian siswa kita, menjadi identitas yang mereka banggakan dan wariskan."
Kisah di Smansa Sipirok menjadi saksi: bahwa dengan cinta dan sedikit usaha, warisan budaya yang hampir pudar bisa bersinar kembali, bahkan lebih terang dari sebelumnya. Semangat yang lahir dari sebuah panggung sederhana ini semoga menjadi percikan api bagi sekolah-sekolah lain di seluruh nusantara — membuktikan bahwa pendidikan sejati juga berarti merawat jiwa bangsa.
(PS/BERMAWI)
