Mengusung konsep pelayanan kesehatan menyeluruh sepanjang siklus hidup, Gebyar Posyandu kali ini seperti sebuah panggung besar yang menyatukan semua generasi. Di satu sudut, bidan sedang memeriksa ibu hamil dengan stetoskop; di sisi lain, seorang balita tersenyum malu saat ditimbang berat badannya. Remaja, orang tua, hingga lansia saling bersisian, membentuk mozaik kehidupan yang hidup dan harmonis.
Tak hanya layanan kesehatan, arena Balairung berubah menjadi pusat kegembiraan. Sorak-sorai meledak ketika lomba joget sambil menggendong anak dimulai—para ayah berusaha menjaga irama sambil tertawa terpingkal-pingkal. Di karpet merah, bayi-bayi merangkak seperti atlet mini, disemangati teriakan orang tua. Lomba makan kerupuk menghadirkan wajah-wajah penuh tepung, sementara fashion show balita memunculkan momen gemas yang membuat semua mata berbinar.
Barisan tamu undangan—, Bhabinkamtibmas, Ketua TP-PKK Kelurahan, bidan kelurahan, Kapustu Pasar Sempurna, Koordinator KB Kecamatan, hingga Kapus Puskesmas Marancar Udik—terlihat menyatu dalam kerumunan. Mereka tak sekadar hadir secara formal, tetapi ikut larut dalam senyum, tawa, dan tepukan tangan. Kehadiran ini menjadi simbol kuat sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Suara MC yang riang berpadu dengan denting musik pengiring, menciptakan ritme yang memandu jalannya acara. Namun di balik keceriaan, ada pesan serius yang terus digaungkan: Posyandu adalah benteng pertama kesehatan masyarakat. Melalui imunisasi, pemantauan tumbuh kembang anak, penyuluhan gizi, hingga pemeriksaan kesehatan ibu dan lansia, semua diarahkan untuk mencapai visi kesehatan yang sejalan dengan tujuan global Sustainable Development Goals (SDGs).
Dalam sambutannya, Lurah Leli Khairani Siregar, SKM, sebagai tuan rumah berbicara dengan suara mantap namun penuh kehangatan. “Kita ingin Posyandu menjadi ruang yang hidup, tempat kesehatan, kebersamaan, dan semangat kemerdekaan bertemu dalam satu momen yang bermakna,” ucapnya. Kata-kata itu disambut tepuk tangan panjang, seolah menegaskan bahwa semangat itu benar-benar dirasakan oleh semua yang hadir.
Para kader Posyandu—dengan rompi merah putih khas mereka—bergerak cekatan. Ada yang mengukur lingkar lengan bayi, ada yang memanggil peserta lomba berikutnya, dan ada pula yang membagikan minuman sehat. Di wajah mereka terpancar dedikasi, kelelahan yang tersamarkan oleh rasa bangga. Mereka adalah jantung yang membuat Gebyar Posyandu tetap berdetak.
Menjelang sore, sinar matahari mulai merendah, memantulkan cahaya keemasan di lantai Balairung. Sesi foto bersama menutup hari itu—senyum merekah di setiap wajah, piala dan hadiah di tangan para pemenang. Gebyar Posyandu Pasar Sempurna 2025 bukan sekadar perayaan, tetapi lukisan hidup tentang kemerdekaan yang berarti sehat, kuat, dan bersatu demi masa depan yang lebih cerah.(PS/BERMAWI)




