Akses Darat Lumpuh Total, Warga Kecamatan Marancar Terisolasi: 10 Titik Longsor Putuskan Jalur Dari Simaninggir Menuju Kantor Camat Marancar

/ Minggu, 30 November 2025 / 20.12.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Rasa cemas dan ketidakpastian menyelimuti warga Kecamatan Marancar sejak 10 titik longsor menutup total jalan Dari Desa Simaninggir menuju Kantor Camat Marancar sejak Rabu, 26 November 2025. Hingga hari ini, Minggu (30/11/2025), jalan belum dapat dilalui, membuat ribuan warga terisolasi tanpa kepastian kapan akses transportasi dapat kembali normal.


Di beberapa sudut desa, warga hanya bisa menatap tumpukan tanah bercampur batu yang menjulang setinggi pinggang orang dewasa. Longsor yang dipicu curah hujan ekstrem ini bukan hanya memutus jalan, tetapi juga memutus harapan masyarakat untuk menjalankan aktivitas harian—mulai dari bekerja, mengangkut hasil pertanian, hingga membawa anggota keluarga yang sakit ke fasilitas kesehatan.


Kondisi ini semakin menyayat hati karena akses komunikasi seluler ikut terputus. Warga tak dapat menghubungi keluarga di luar desa, mengirim laporan kedaruratan, maupun menerima informasi resmi. Di tengah keterbatasan itu, banyak warga terpaksa berjalan kaki ke titik-titik tinggi hanya untuk mencari sisa-sisa sinyal yang kadang muncul lalu hilang kembali. “Kami seperti terputus dari dunia luar,” ujar salah satu warga dengan suara lirih.


Informasi pertama mengenai terputusnya jalan justru datang dari status WhatsApp Ketua Fraksi Golkar Tapsel, Yang juga Putra Daerah Marancar Andesmar Siregar S.Kom. Dalam unggahannya, ia memperlihatkan foto dan video material longsor yang menutup total badan jalan. Unggahan itu langsung memantik keprihatinan publik. Andesmar menegaskan bahwa kondisi warga tidak boleh dibiarkan terlalu lama tanpa bantuan, terutama karena jalur tersebut merupakan urat nadi mobilitas masyarakat Marancar.


Sementara itu, Camat Marancar, Hj. Rosnanni Pasaribu S.Pd, MM, menyampaikan bahwa pihak kecamatan sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten terkait penanganan longsor. Namun, mobilisasi alat berat menghadapi tantangan besar karena 13 kecamatan di Tapanuli Selatan juga mengalami banjir dan longsor. “Kami mohon warga tetap waspada. Kondisi lereng masih labil dan potensi longsor susulan cukup tinggi,” ujarnya.


Di balik bencana ini, ahli geologi menilai bahwa fenomena longsor beruntun adalah tanda meningkatnya tekanan hidrologi pada lereng akibat saturasi air tanah. Ketika struktur tanah jenuh air, daya dukungnya melemah dan lapisan permukaan bergerak, memicu longsor berantai. Situasi seperti ini menegaskan perlunya mitigasi jangka panjang, seperti perbaikan drainase lereng, penguatan tebing, hingga sistem peringatan dini berbasis curah hujan.


Hingga laporan ini diturunkan, akses belum pulih dan komunikasi seluler masih terputus di sejumlah titik. Warga berharap pemerintah segera menurunkan lebih banyak bantuan, bukan hanya alat berat, tetapi juga dukungan logistik dan komunikasi darurat. Di tengah isolasi dan keterbatasan, harapan mereka sederhana: agar pintu menuju dunia luar kembali terbuka, dan kehidupan dapat berjalan seperti sediakala.(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: