![]() |
| Asrama Dayah MUDI Mesra |
POSKOTASUMATERA.COM | SAMALANGA -- Di tengah-tengah suasana yang tenang di Aceh, datanglah suatu bencana yang tidak dapat diprediksi. Terlebih saat hujan deras mencurahkan airnya, membawa aliran sungai batee iliek meluap hingga menyentuh pekarangan dayah.
Bahkan ada yang asramanya roboh di depan mata. Bencana banjir tidak hanya mengguncang infrastruktur, tetapi juga melahirkan keresahan di hati para santri dan orang tua mereka. Dalam kondisi yang tidak menentu, di sinilah dilema muncul: apakah sebaiknya pulang kampung atau bertahan di dayah?
Di MUDI Mesra Samalanga, satu dari sekian banyak dayah yang berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam, keterikatan antara santri dan lingkungan sekitarnya sangatlah kuat. Ketika bencana melanda, orang tua mungkin merasakan dorongan untuk menjemput anak-anak mereka, berharap dapat melindungi mereka dari bahaya.
Namun, keputusan ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Kebangkitan rasa tanggung jawab dan keikhlasan untuk bertahan di tempat pendidikan bisa jadi adalah pilihan yang lebih bijak.
Pertama, mari kita telaah alasan di balik keputusan untuk bertahan di dayah. Dalam situasi darurat seperti ini, batasan komunikasi sering kali terjadi. Jaringan transportasi yang terputus dapat membuat santri terisolir, dan apabila mereka mengambil langkah untuk pulang, risiko yang mengintai pun semakin besar.
Terdapat peluang tinggi bagi mereka untuk terjebak dalam bencana yang lebih dahsyat. Beberapa santri dari Jeunieb dan Kuta Krueng mengalami situasi tersebut, ketika mereka tidak hanya terjebak oleh arus tetapi juga kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan.
Di samping itu, bagi orang tua, ketenangan adalah suatu hal yang sangat berharga. Ketika santri tetap berada di dayah, mereka dapat terus berkomunikasi dengan pihak pengelola. Ini tentunya memberikan rasa aman tambahan bagi orang tua, mengetahui bahwa anak mereka berada dalam pengawasan yang baik. Dayah, sebagai institusi pendidikan, tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu agama, namun juga bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan para santri.
Setelah kondisi membaik dan bencana mereda, masih ada kesempatan bagi santri untuk berkontribusi. Tindakan kebersamaan dalam membersihkan lokasi dayah yang terkena banjir bukan hanya sekadar tugas, melainkan juga bentuk pengabdian kepada lingkungan yang telah berkontribusi dalam pendidikan mereka.
Ikatan emosional dan spiritual dengan komunitas dayah dapat semakin menguatkan rasa solidaritas antar santri dan pengasuh. Momen ini bisa menjadi peluang pendidikan yang berharga, di mana mereka belajar untuk saling membantu dan berkontribusi terhadap lingkungan sosial mereka.
Sebagai penutup, pilihan antara pulang kampung atau bertahan di dayah selama bencana adalah keputusan yang memerlukan pertimbangan matang. Bagi santri, bertahan di dayah dapat menawarkan perlindungan, komunikasi yang lebih baik dengan orang tua, dan peluang untuk memberikan bantuan pasca bencana.
Dalam perjalanan ini, keikhlasan untuk berbagi, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial dan spiritual, akan mengajarkan banyak hal yang tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan yang tetap relevan dalam menghadapi setiap bencana.
Sebagai insan yang selalu siap berjuang dalam situasi sulit, marilah kita bersama-sama memastikan bahwa setiap tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita, adalah kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Semoga dengan kerendahan hati dan keikhlasan, kita bisa melalui semua rintangan ini dengan sebaik-baiknya. (PS/DAMRY/UG)
