Festival Seni Budaya Antar Pelajar dan Guru Resmi Dibuka Bupati H. Gus Irawan Pasaribu: Panggung Tapsel Bangkit untuk Generasi Tapanuli Selatan

/ Jumat, 14 November 2025 / 15.58.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – TAPANULI SELATAN —Ratusan pelajar dan guru memadati Lapangan Bola Kaki SMPN 1 Angkola Timur pada Selasa (11/11/2025). Udara masih lembab oleh embun pagi, namun suasana hati para peserta sudah lebih dulu menghangat. Bukan sekadar keramaian sebuah acara—ada getaran harapan, kebanggaan, dan kerinduan pada akar budaya yang seakan menemukan tempat pulangnya. Semua berpadu dalam Festival Seni Budaya Antar Pelajar dan Guru Se-Kabupaten Tapanuli Selatan, yang resmi dibuka oleh Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu.


Denting gondang yang menggema di antara bukit-bukit kecil Angkola Timur menjadi isyarat dimulainya sesuatu yang lebih dari sekadar festival. Para pelajar yang mengikuti prosesi penyambutan tampak menahan haru. Bagi sebagian dari mereka, ini adalah kali pertama mengenakan busana adat lengkap dan menari dalam upacara sakral. “Saya bangga bisa berdiri di sini, membawa budaya kami sendiri,” tutur seorang siswi sambil menggenggam ulos di bahunya. Matanya berbinar, seolah merasakan ikatan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang tua.


Meski menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-75 Kabupaten Tapanuli Selatan, festival ini membawa makna yang lebih luas bagi peserta dan guru. Ia menjadi ruang di mana generasi muda belajar tentang identitas, bukan dari buku atau layar ponsel, tetapi dari praktik hidup yang mereka jalani sendiri. Dalam perspektif nilai budaya, kegiatan semacam ini merupakan jembatan pewarisan kearifan lokal, sekaligus benteng yang memperkuat jati diri masyarakat di tengah derasnya budaya modern.


Plt. Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, Efrida Yanthi Pakpahan, SPT, MM, melalui Kabid Kebudayaan Hotma Rido Ranto Siregar, S.Ag., M.Si, menekankan bahwa festival ini bukan sekadar ajang kompetisi. “Ini ruang belajar. Ruang untuk menghidupkan kembali nilai Dalihan Natolu yang mengajarkan hormat dan kebersamaan,” ungkapnya. Ucapannya terasa seperti pesan moral yang mengalir lembut kepada setiap pelajar dan guru: bahwa budaya tidak sekadar dipelajari, tetapi harus dirawat bersama.


Di sudut-sudut lapangan, peserta tampak serius berlatih. Ada yang berulang kali memperbaiki langkah Tor-Tor, ada yang terisak kecil karena gugup, ada pula yang saling menyemangati sebelum tampil Onang-Onang. Para guru yang mengikuti Lomba Makkobar terlihat mempersiapkan diri dengan penuh kesungguhan—seolah ingin menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya lewat kata, tetapi juga lewat teladan.


Rangkaian festival akan berlanjut pada 14–16 November 2025, menampilkan berbagai lomba tambahan seperti Tari Kreasi, Kontes Lagu Daerah, hingga memasak Itak Pohul-Pohul, kudapan tradisional yang sarat makna tentang keteguhan hati. Setiap perlombaan menuntut bukan hanya keterampilan, tetapi juga pemahaman mendalam tentang filosofi di balik setiap gerak, nada, dan rasa.


Untuk menjaga objektivitas dan mutu acara, panitia menghadirkan juri yang terdiri dari akademisi, seniman, dan pemerhati budaya Tapanuli Selatan. Hadiah berupa trofi dan uang pembinaan memang menanti para pemenang, namun bagi banyak peserta, penghargaan terbesar justru tumbuh dari dalam diri: rasa percaya diri bahwa mereka mampu merawat budaya leluhur dan menampilkannya di hadapan publik.


Festival Seni Budaya ini diharapkan dapat menjadi tradisi tahunan yang melekat dalam ruang pendidikan di Tapanuli Selatan. Di tengah laju modernisasi, kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus menjauhkan masyarakat dari tradisi. Justru dari akar yang kuatlah generasi muda bisa berkembang dengan mantap. Melalui tangan-tangan para pelajar dan semangat para guru, Tapanuli Selatan kembali menegaskan jati dirinya—daerah yang  Tapsel bangkit bersama warisan budaya yang hidup di setiap langkah masyarakatnya.(PS/BERMAWI)




Komentar Anda

Terkini: