POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di tengah semangat memperingati Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025, halaman Kantor Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, tampak hidup dengan suasana khidmat dan penuh makna. Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar, berdiri tegak di depan warganya, menyampaikan pesan sederhana namun menggugah: “Kita semua adalah penerus perjuangan para pahlawan. Kini, perjuangan itu adalah membangun desa kita dengan hati dan kerja keras.”
Suasana apel yang diikuti oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, dan para pemuda menjadi cermin kuatnya rasa persatuan. Tidak ada gegap gempita, namun wajah-wajah warga memancarkan kebanggaan. Di balik kesederhanaan upacara itu, tersimpan semangat besar: bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek, tetapi juga perjuangan moral untuk memajukan kehidupan bersama.
Dalam sambutannya, Ranto Panjang Sipahutar menegaskan bahwa makna kepahlawanan di era kini telah bergeser dari medan pertempuran ke ruang pengabdian. “Kalau dulu pahlawan berjuang dengan senjata, maka kini kita berjuang dengan kerja keras, kejujuran, dan pengabdian. Musuh kita sekarang adalah kemiskinan dan ketertinggalan,” ucapnya penuh keyakinan.
Ia menambahkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara soal jalan, jembatan, dan infrastruktur fisik. Pembangunan sejati, menurutnya, adalah ketika masyarakat berdaya, mandiri, dan mampu mengelola potensi lokal dengan bijak. Pemerintah Desa Tandihat kini tengah menggerakkan program pemberdayaan ekonomi kreatif, peningkatan pendidikan, dan layanan kesehatan yang lebih inklusif. “Desa yang maju adalah desa yang warganya berpikir maju,” ujar Ranto mantap.
Ranto juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Melalui program penghijauan dan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, masyarakat diajak untuk menjaga alam sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. Pendekatan ini mencerminkan pemikiran ilmiah bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus berpijak pada keseimbangan ekologi dan sosial.
Bagi Ranto Panjang Sipahutar, generasi muda adalah “pahlawan masa depan.” Ia mendorong pemuda desa agar tidak sekadar menjadi penonton, melainkan motor penggerak perubahan. Program pelatihan keterampilan dan digitalisasi desa menjadi salah satu langkah konkret untuk menyiapkan mereka menghadapi tantangan zaman. “Kita ingin anak-anak muda Tandihat punya cita-cita besar, tapi tetap berpijak di tanah kelahirannya,” tuturnya.
Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta apel menundukkan kepala dalam hening, mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa. Hembusan angin pagi membawa ketenangan yang dalam, seolah menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Di tengah kesunyian itu, suara Kepala Desa kembali terdengar, menutup acara dengan pesan yang menggetarkan hati:
“Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang terus bekerja dengan tulus untuk memajukan bangsanya. Mari kita lanjutkan semangat itu dari desa ini, dari Tandihat tercinta.”(PS/BERMAWI)
