Kacabdisdik Wilayah XI: Di Tengah Cuaca Ekstrem, Deretan Surat dari Sekolah Menjadi Suara Kekhawatiran Para Guru dan Siswa

/ Rabu, 26 November 2025 / 17.08.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Hujan deras yang tak kunjung reda sejak Senin (25/11/2025) mengubah wajah sejumlah daerah di Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kota Padangsidimpuan. Sungai-sungai meluap, jalan-jalan tergenang, hingga lereng perbukitan mulai bergerak. Di tengah situasi itu, Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Wilayah XI justru dipenuhi tumpukan surat—bukan sembarang surat, tetapi permohonan dari sekolah-sekolah yang cemas pada keselamatan warganya.


Setiap lembar membawa cerita. Ada sekolah yang siswanya tak bisa menyeberangi sungai karena debit air meningkat tajam, ada guru yang terpaksa memutar hingga belasan kilometer karena jalur utama tertutup longsor. “Surat permohonan dari sekolah sudah banyak masuk. Semuanya menjelaskan kondisi daerah masing-masing. Banjir, jalan licin, dan longsor adalah kendala yang paling sering dilaporkan,” ujar Dr. Tetti Mahrani Pulungan, S.Pd., M.Pd, Kepala Cabdisdik Wilayah XI, dengan nada prihatin.


Cuaca ekstrem kali ini bukan sekadar hujan musiman. Analisis meteorologi menunjukkan adanya anomali iklim yang memicu hujan berkepanjangan tanpa jeda. Air yang tak sempat meresap membuat dataran rendah mengalami waterlogging, sementara di pegunungan, tanah yang jenuh air mudah sekali bergerak. Kondisi ilmiah inilah yang menjadi dasar Cabdisdik mempertimbangkan pembelajaran daring sebagai langkah darurat.


“Keselamatan adalah hal yang tidak bisa ditawar,” tegas Dr. Tetti. Cabdisdik telah mengeluarkan Himbauan Cuaca Ekstrem kepada seluruh SMA, SMK, dan SLB, yang berisi seruan untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau lingkungan sekolah, dan berkoordinasi dengan BPBD serta pemerintah daerah. Sekolah juga diminta melaporkan secara berkala kondisi akses jalan yang sewaktu-waktu dapat tertutup banjir atau longsor.


Di satu sekolah di Angkola Barat, beberapa siswa terpaksa kembali ke rumah setelah jalan menuju desa mereka amblas sebagian. Di wilayah lain, seorang guru yang bertugas di daerah pedalaman mengaku harus berhenti di tengah perjalanan karena tanah dari lereng bukit mulai runtuh menutupi badan jalan. Kisah-kisah seperti inilah yang memperkuat pertimbangan bahwa pembelajaran daring bukan hanya solusi teknis, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap nyawa.


Kebijakan responsif Cabdisdik Wilayah XI mendapat dukungan dari banyak pihak. Para orang tua merasa lebih tenang, sementara siswa dan guru bisa tetap melanjutkan pembelajaran tanpa harus memaksa diri melawan cuaca yang tak bersahabat. Sikap cepat ini dinilai sejalan dengan prinsip mitigasi risiko yang kini semakin penting di tengah meningkatnya intensitas bencana akibat perubahan iklim.


Ke depan, Dr. Tetti menekankan pentingnya sekolah memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana. Mulai dari membuat SOP pembelajaran darurat, melakukan simulasi evakuasi, hingga membentuk Tim Siaga Sekolah. “Cuaca ekstrem bisa berulang. Kita harus bukan hanya siap merespons, tetapi juga siap beradaptasi. Pendidikan harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun,” ujarnya.

(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: