POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suasana haru menyelimuti Posko Penampungan Korban Banjir di Batuhula, Kecamatan Batangtoru, ketika rombongan Karang Taruna dari tiga daerah—Labuhanbatu Selatan, Tapanuli Selatan, dan Kota Padangsidimpuan—tiba pada Minggu, 29 November 2025. Di tengah kepenatan para penyintas yang masih berjuang memulihkan kehidupan mereka, kedatangan para pemuda ini menghadirkan energi baru: harapan.
Dari kejauhan, anak-anak yang semula hanya duduk menyendiri mulai menunjukkan senyum kecil saat melihat para anggota Karang Taruna berbaur. Ada yang mengajak mereka bermain, ada yang membantu relawan memasak, dan ada pula yang mendengarkan cerita warga dengan penuh kesabaran. Di tengah tenda-tenda darurat yang masih basah oleh sisa hujan, perhatian kecil itu terasa begitu berarti.
Ketua Karang Taruna Tapanuli Selatan, Ahmad Bangun Ritonga, SE., menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar membawa paket bantuan. “Kami datang untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri. Solidaritas pemuda harus hadir di mana ada duka,” ujarnya. Sikap itu tampak dari bagaimana ia dan rombongannya menghabiskan waktu mendata kebutuhan, mengobrol dengan warga, hingga membantu menata kembali logistik yang sempat menumpuk.
Tidak ketinggalan, Karang Taruna Kota Padangsidimpuan menampilkan pendekatan yang berbeda. Mereka lebih banyak berdialog dengan relawan dan warga untuk memastikan bahwa setiap bantuan benar-benar tepat guna. Mereka membahas potensi penyakit pascabanjir, kondisi air bersih, serta kebutuhan sanitasi yang mendesak. Upaya ini membuat distribusi bantuan lebih terarah, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Kehadiran pemuda-pemuda dari tiga daerah ini mendapat sambutan hangat dari warga posko. Banyak yang mengatakan bahwa koordinasi mereka sangat rapi sehingga tidak terjadi penumpukan atau tumpang tindih bantuan. Bahkan, beberapa warga mengaku baru kali ini melihat pemuda-pemuda dari wilayah berbeda datang bersatu tanpa pamrih untuk membantu sesama.
Menjelang sore, ketika rombongan bersiap kembali, suasana emosional terasa jelas. Ada pelukan, ada ucapan terima kasih, dan ada doa-doa lirih dari warga yang merasa kembali diperhatikan. Ahmad Bangun Ritonga menutup kunjungan itu dengan pesan penuh harapan. “Semoga bantuan ini menjadi amal jariyah. Dan semoga saudara-saudara kita di Batangtoru bisa kembali bangkit dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.”
Di tengah bencana yang menyisakan luka mendalam, kehadiran Karang Taruna dari tiga daerah ini menjadi bukti bahwa solidaritas tidak mengenal batas administratif. Ia tumbuh dari hati, bergerak melalui tindakan, dan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. (PS/BERMAWI)


