May Zenny Panggabean, siswi kelas XI-6 SMAN 2 P.Sidimpuan Menerima Hadiah Juara 2 Vokal Solo Di Sopo Daganak Batangtoru
POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN — Di tengah riuh tepuk tangan dan denting musik yang bergema di Sopo Daganak Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, seorang remaja berdiri di panggung dengan wajah teduh namun mata penuh cahaya percaya diri. Dialah May Zenny Panggabean, siswi kelas XI-6 SMAN 2 Padangsidimpuan, putri dari Nasir Panggabean dan Gustini Harahap, anak kedua dari empat bersaudara, yang baru saja mengukir prestasi sebagai Juara 2 Vocal Solo Kategori Umum pada ajang bergengsi tingkat Tabagsel–Tapteng–Sibolga yang digelar PT Agincourt Resources.
Prestasi itu terasa istimewa. Bukan hanya karena ia harus bersaing dengan peserta dewasa, tetapi karena perjalanan menuju panggung itu penuh dengan cerita tentang latihan panjang, pengorbanan kecil yang sering tak terlihat, dan mimpi besar yang ia rawat sejak lama. Dari Juara 1 FLS2N, Juara 1 UMTS, Juara 3 TMD, Harapan 1 Aufa Royhan, hingga Top 5 Tabagsel Idol, rekam jejak May Zenny menunjukkan seorang remaja yang tumbuh dengan panggung sebagai ruang belajar dan ruang bertumbuhnya kepercayaan diri.
Salah satu pengalaman paling menentukan bagi May Zenny terjadi pada 29–30 Agustus 2025, ketika ia mengikuti audisi Indonesian Idol. Momen itu menjadi titik balik. Meski belum berhasil melaju ke babak berikutnya, pengalaman berhadapan dengan juri nasional, atmosfir kompetisi raksasa, dan ribuan talenta dari seluruh Indonesia menjadi guru besar yang tidak pernah ia lupakan. “Sejak itu, dia tampil lebih matang dan berani,” cerita seorang kerabat. Alih-alih patah hati, kegagalan itu justru menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Di sekolahnya, nama May Zenny menjadi inspirasi yang hidup. Kepala SMAN 2 Padangsidimpuan, Akhiruddin Harahap, S.Sos., M.Pd., menyampaikan rasa bangganya. “Anak-anak seperti May Zenny mengingatkan kita bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar angka dan teori, tetapi juga rumah bagi tumbuhnya talenta dan karakter,” ujarnya dengan penuh apresiasi. Baginya, kemenangan May Zenny adalah kemenangan sekolah dan bukti bahwa pembinaan minat dan bakat tidak pernah sia-sia.
Di balik kemampuan vokalnya, ada dua sosok yang memainkan peran penting: Zul Fahri Nainggolan dan Afifah Amin Nasution, pembina yang selalu mendampingi setiap progres May Zenny. Mereka bukan sekadar pelatih, tetapi mentor yang memahami bahwa suara yang indah lahir dari perpaduan teknik, emosi, dan keberanian. “Yang kami latih bukan hanya suara, tetapi juga mental bertanding,” ujar salah satu pembinanya. Di tangan mereka, setiap latihan bukan sekadar rutinitas, tetapi proses membentuk karakter seni.
Namun, kisah paling menyentuh datang dari ruang kecil bernama “rumah”, tempat ia tumbuh bersama tiga saudara lainnya. Ibunya, Gustini Harahap, adalah pendengar pertama dari setiap lagu yang baru ia pelajari. Ayahnya, Nasir Panggabean, selalu menyediakan waktu untuk memberi dukungan moral. Sedangkan saudara-saudaranya menjadi “penonton cilik” yang setia, tepuk tangannya mungkin kecil, tapi maknanya besar. Dari rumah yang sederhana, May Zenny belajar bahwa mimpi akan tumbuh kuat ketika disiram dengan kasih sayang dan kepercayaan.
Kini, setiap kali naik panggung, May Zenny membawa lebih dari sekadar suara. Ia membawa cerita tentang kerja keras, cinta keluarga, dan keberanian seorang remaja untuk terus melangkah meski jalan tidak selalu mulus. Prestasi yang diraihnya menjadi pengingat bahwa anak-anak muda Tabagsel memiliki potensi besar jika diberi ruang untuk berkembang. Dengan mental yang semakin solid dan rekam jejak yang terus naik, May Zenny Panggabean kini menjadi salah satu wajah remaja berbakat Sumatera Utara yang layak diperhitungkan—bukan hanya di tingkat daerah, tetapi kelak mungkin di pentas nasional.(PS/BERMAWI)
