POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di tengah semilir angin perbukitan Muara Batangtoru, suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Kantor Desa Pardamean, Selasa (11/11/2025). Pagi itu, puluhan warga dari berbagai kalangan berkumpul dengan satu semangat yang sama — membangun desa mereka lewat Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) Tahun 2026.
Bagi masyarakat Pardamean, forum ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk menata masa depan bersama.
Sejak pagi, wajah-wajah penuh semangat tampak memenuhi Kantor desa. Kaum ibu dari PKK membawa buku catatan kecil, para pemuda Naposo Nauli Bulung berdiskusi di pojok ruangan, sementara para tokoh masyarakat berbincang hangat dengan perangkat desa. Turut hadir pula Sekretaris Camat Muara Batangtoru Jasinaloan yang mewakili Camat, Babinsa Kopda H.S. Nasution, Pendamping Desa, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Kehadiran mereka menandakan kuatnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan partisipatif.
Dalam sambutannya, Jasinaloan menegaskan pentingnya Musrenbangdes sebagai wujud nyata demokrasi di tingkat akar rumput. “Musrenbang ini bukan sekadar acara formalitas, tapi wadah rakyat menyuarakan apa yang mereka butuhkan. Di sinilah pembangunan itu bermula — dari aspirasi warga sendiri,” ujarnya, disambut tepuk tangan dan anggukan setuju dari peserta musyawarah.
Sementara itu, Kepala Desa Pardamean Maratakun Ritonga menyampaikan visi besar yang menyoroti pembangunan berbasis manusia. “Kami ingin pembangunan di Pardamean tak hanya soal jalan dan jembatan, tapi juga soal kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup. Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga harus berjalan beriringan,” ungkapnya dengan nada penuh keyakinan. Ucapan itu disambut tepuk tangan hangat, tanda dukungan warga terhadap arah pembangunan yang lebih inklusif.
Suasana musyawarah pun mengalir hidup dan dinamis. Warga silih berganti menyampaikan gagasan — mulai dari pembangunan jalan desa, perbaikan saluran irigasi, hingga pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan. Tak sedikit pula yang mengusulkan program peningkatan SDM masyarakat dan tokoh agama, serta pengembangan tanaman ketapang sebagai potensi ekonomi lokal yang menjanjikan. Setiap usulan dicatat dengan saksama, didiskusikan, dan ditimbang secara bersama-sama.
Bagi Ny. Rohani Maratakun Ritonga, Ketua PKK Desa Pardamean, Musrenbangdes tahun ini memberi makna mendalam. “Dulu kami hanya mendengar keputusan dari atas, sekarang kami bisa ikut bicara dan memberi ide. Rasanya bangga sekali, karena perempuan juga punya peran dalam membangun desa,” ujarnya sambil tersenyum bahagia. Cerita seperti Rohani menjadi simbol nyata bahwa pemberdayaan masyarakat bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang tumbuh dari partisipasi warga sendiri.
Dalam forum tersebut, masyarakat juga merumuskan sejumlah usulan prioritas pembangunan tahun 2026, di antaranya pembangunan TPT sepanjang 500 meter, pengerasan jalan keliling desa, pembangunan jalan usaha tani sepanjang ±3 km, pengadaan 20 unit lampu jalan, rehab MCK Madrasah, hingga penambahan perlengkapan adat dan alat kesehatan seperti dandang, ember, dan kompor gas lengkap.
Menjelang siang, Musrenbangdes ditutup dengan doa bersama — sederhana namun penuh makna. Warga pulang membawa rasa puas dan harapan baru, bahwa setiap suara yang mereka sampaikan hari ini akan menjadi fondasi kemajuan esok. Dari desa kecil yang sarat kebersamaan ini, Pardamean menunjukkan bahwa pembangunan sejati lahir dari suara rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
(PS/BERMAWI)

