PEMIMPIN YANG MENYINGKIRKAN EGO DEMI RAKYAT

/ Sabtu, 29 November 2025 / 12.47.00 WIB

Apel Gabungan Penanggulangan Bencana Humbahas Hadirkan Keteladanan yang Menguatkan Harapan Warga

POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS,-  Di tengah duka bencana yang melanda sejumlah titik di Kabupaten Humbang Hasundutan, sebuah momen menyentuh terpancar dari Lapangan Apel Tanggap Bencana pada Sabtu pagi. Tanpa seremoni berlebihan, tanpa sorotan lampu panggung. 

Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, S.H., M.H., berdiri bersama pasukan penanggulangan bencana menegaskan bahwa ketika rakyat sedang susah, seorang pemimpin tidak boleh bersembunyi di balik meja rapat.

Di sampingnya, Kapolres Humbahas tampil dalam ketegasan yang tenang, memastikan seluruh aparat kepolisian berada dalam kesiapsiagaan penuh. Kehadiran Provos di barisan belakang mempertegas bahwa ini bukan ritual seremonial, melainkan langkah lapangan yang nyata di tengah ancaman bencana.

Suasana apel pagi itu tidak heboh tetapi justru di situlah kekuatannya. Yang hadir adalah mereka yang bekerja, bukan yang ingin dipuji. Barisan tim gabungan TNI, Polri, BPBD, relawan, perangkat kecamatan dan desa menyatu dalam satu komando. 

Tidak ada spanduk optimistis, tidak ada panggung tinggi, tidak ada suara pengeras yang memuja-muja kinerja pemerintah. "Yang terlihat justru kesungguhan.

Bupati Oloan P. Nababan berjalan dari satu barisan ke barisan lain, menyalami personel, memberikan arahan singkat, bahkan menanyakan kondisi keluarga beberapa petugas yang sudah berhari-hari bertugas. Sikap sederhana itu membuat banyak relawan menunduk haru; mereka tidak sedang dinilai, tetapi diakui.

“Bencana tidak memilih waktu,” ujar Bupati dalam pembukaan apel, “maka kita juga tidak boleh memilih kapan peduli.”

Dalam satu kalimat itu, terselip filosofi kepemimpinan yang telah ia tunjukkan beberapa tahun terakhir pemimpin yang tidak hanya hadir ketika sorotan kamera menyala, tetapi juga ketika hujan turun dan medan becek.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan tudingan, momen ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik tidak dibangun oleh kata-kata, tetapi oleh kehadiran fisik seorang pemimpin di saat rakyat paling membutuhkan.

Warga yang datang menonton apel itu tidak sekadar menjadi penonton. Mereka menjadi saksi sejarah."Mereka melihat Bupati yang berdiri di tanah yang sama dengan mereka tanpa payung khusus, tanpa jarak protokoler yang berlebihan. 

Mereka melihat Kapolres yang memastikan setiap personel siap turun kapan pun dibutuhkan. Dan mereka melihat seluruh unsur pemerintah berjalan selaras, bukan sibuk memperdebatkan hal-hal kecil.

“Kalau pemimpinnya hadir seperti ini, kami merasa tidak sendirian,” ucap seorang warga yang rumahnya terdampak tanah longsor."Di banyak daerah, bencana sering kali menjadi panggung politik. Tetapi di Humbang Hasundutan, Sabtu pagi itu justru menunjukkan kebalikannya: bencana menjadi ruang solidaritas, tempat pemimpin dan rakyat berdiri tanpa jarak.

Sementara sebagian pihak sibuk berkomentar dari jauh, Bupati Oloan memilih langkah paling sederhana namun paling bermakna: Hadir untuk memimpin, Hadir untuk mendengar, Hadir untuk memastikan rakyatnya tidak berjalan sendirian.

Dan itulah yang membuat banyak hati tergetar, Bencana selalu menguji banyak hal ketahanan alam, kesabaran masyarakat, dan yang paling penting: kualitas kepemimpinan.

Namun ujian kali ini memberi jawaban yang jelas bahwa Humbang Hasundutan memiliki seorang Bupati yang tidak hanya memerintah, tetapi melayani. Tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. Tidak hanya tampil di panggung, tetapi hadir di tanah tempat rakyatnya berpijak.

Di tengah kekalutan, hadirnya seorang pemimpin bisa menjadi cahaya.
Dan pada Sabtu itu, cahaya itu terlihat jelas di Humbang Hasundutan. 

Editor : PS/B.Nababan 

Komentar Anda

Terkini: