Andesmar Siregar S.Kom Ketua Fralsi Golkar DPRD Tapsel
POSKOTASUMATERA.COM — TAPSEL — Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi masyarakat Pantai Barat Sumatera berubah menjadi malam kepanikan dan tangisan. Hujan deras yang turun tanpa henti sejak Senin (25/11/2025) menggulung wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Padangsidimpuan, Mandailing Natal, dan sekitarnya ke dalam bencana yang nyaris tanpa peringatan. Dalam waktu singkat, suara rintik hujan berubah menjadi deru air yang mengamuk, merobek tebing, memutus jalan, dan menenggelamkan rumah–rumah warga.
Di tengah gelap yang hanya diterangi lampu-lampu seadanya, jeritan meminta tolong terdengar di berbagai sudut desa. Air bah menghantam pintu rumah, memaksa warga melompat keluar sambil memeluk anak-anak mereka. Di Tapanuli Tengah, seorang ibu terlihat menggigil sambil menggenggam pakaian basah yang berhasil ia selamatkan. “Rumah kami hanyut separuh… kami tidak tahu harus ke mana,” ucapnya lirih, suaranya bergetar antara takut dan pasrah.
Tak sedikit warga yang terjebak di atap rumah, menunggu pertolongan yang datang terhambat oleh putusnya jalur transportasi. Material longsor setinggi belasan meter menutup jalan-jalan utama, menyisakan aroma tanah basah bercampur kayu patah. Banjir bandang menyeret perabot, sepeda motor, bahkan kandang ternak—meninggalkan jejak kehancuran yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Dari hasil analisis klimatologi sementara, fenomena La Niña lemah diduga menjadi pemicu utama anomali hujan ekstrem yang mengguyur wilayah ini. Tingginya kadar uap air di atmosfer membuat awan konvektif tumbuh berlapis-lapis, menumpahkan curah hujan yang jauh di atas normal. Kondisi tanah yang sudah jenuh semakin mempercepat terjadinya longsor, menjadikan bencana ini sebagai kombinasi maut antara faktor alam dan kerentanan lingkungan.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Tapanuli Selatan sekaligus Ketua DPD MKGR Tapsel, Andesmar Siregar S.Kom, menyampaikan duka mendalam atas tragedi yang menimpa ribuan warga. Dalam seruannya, “Pray for Sibolga, Tapteng, Tapsel, Kota Padangsidimpuan, Mandailing Natal dan sekitarnya,” ia menggambarkan musibah ini sebagai luka besar yang dirasakan seluruh masyarakat Sumatera Utara. “Ini bukan sekadar bencana alam, ini duka bersama. Kita harus bergandengan tangan, menyalakan harapan bagi saudara-saudara kita yang hampir kehilangan segalanya,” tuturnya.
Dalam pernyataannya, Andesmar menekankan perlunya perbaikan mitigasi bencana yang lebih kuat dan terarah. Menurutnya, pemetaan risiko harus diperbarui, hunian di daerah rawan longsor dan banjir harus dievaluasi ulang, dan jalur evakuasi harus disiapkan tanpa menunggu bencana berikutnya datang. “Bencana seperti ini adalah alarm keras. Kita tidak boleh lagi lengah,” tegasnya.
Meski di tengah kehancuran, cahaya solidaritas tampak begitu terang. Relawan dari berbagai kelompok masyarakat berdatangan membawa logistik, perahu karet, hingga selimut. Para pemuda mendirikan dapur umum di balai desa yang terhindar dari banjir, sementara tim medis sukarela bergerak dari rumah ke rumah memeriksa warga yang luka dan syok. “Kami merasa seperti tidak sendirian lagi,” ujar seorang ayah di Mandailing Natal, matanya berkaca–kaca melihat uluran tangan dari orang-orang yang bahkan tidak ia kenal.
Musibah besar ini menjadi pengingat pahit bahwa alam dapat berubah begitu cepat, namun kepedulian manusia selalu punya ruang untuk tumbuh lebih besar. Dari tanah yang retak, rumah yang hancur, dan air mata yang belum sepenuhnya kering, masyarakat berharap pemulihan segera berjalan dan sistem mitigasi bencana diperkuat agar tragedi serupa tak lagi merebut nyawa dan harapan di masa depan.(PS/BERMAWI)
