Sosialisasi Persiapan Operasi dan RTD Bendungan PLTA Batangtoru 510 MW: Menguatkan Sinergitas, Menjaga Sungai Bersama Masyarakat

/ Senin, 17 November 2025 / 12.08.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – BATANGTORU — Suasana hangat terasa sejak pagi sampai siang  di Aula Kantor Camat Batangtoru, Senin (17/11/2025). Para kepala desa, lurah, tokoh masyarakat, hingga petugas teknis PLTA Batangtoru berkumpul dengan satu tujuan: memastikan masyarakat memahami betul bagaimana bendungan beroperasi dan bagaimana keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama. Meski kegiatan ini bersifat teknis, pertemuan itu justru menghadirkan kedekatan emosional antara masyarakat dan pihak pengelola PLTA.


Di hadapan peserta, Arie Dedy Puspita, Manajer Sosial dan Komunikasi PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE), menyampaikan pemaparan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia tidak hanya berbicara tentang alat ukur debit air atau sistem pengendali banjir, tetapi juga mengajak warga memahami hubungan manusia dengan Sungai Batangtoru yang selama ini menjadi sumber kehidupan. “Sungai ini bukan hanya tempat mengalirnya air. Ia rumah bagi makhluk hidup dan bagian dari identitas kita,” ujarnya, menciptakan suasana dialog yang lebih personal.


Salah satu penjelasan yang mendapat perhatian peserta adalah soal ikan jurung, spesies yang sejak lama menjadi kebanggaan dan sumber mata pencaharian sebagian warga. Arie menceritakan bagaimana PT NSHE menjalankan program restocking untuk menjaga keberlanjutannya. “Kami tidak ingin sungai kehilangan penghuninya. Program ini adalah bentuk tanggung jawab kami terhadap masyarakat yang menggantungkan hidup pada ekosistem Batangtoru,” katanya. Beberapa peserta tampak mengangguk bangga mendengar komitmen tersebut.


Arie juga menyinggung tantangan besar dalam menjaga dua bentang alam Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara yang dilintasi Sungai Batangtoru. Koordinasi lintas daerah, menurutnya, bukan hanya urusan administrasi, tetapi juga menjaga keberlanjutan ruang hidup bersama. Ia membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memberi masukan, terutama soal ketenagakerjaan. “Silakan sampaikan kebutuhan dan aspirasi. Kami ingin masyarakat menjadi bagian dari perjalanan proyek ini,” ucapnya dengan nada persuasif.


Soal mitigasi bencana, para peserta tampak serius menyimak penjelasan mengenai pemasangan pencatat curah hujan, perekam debit air, dan aktivasi sirene peringatan dini di Sibara-bara dan Taman Sari. Arie memastikan bahwa teknologi yang dipasang bukan sekadar alat, tetapi jembatan untuk melindungi keselamatan warga. “Kalau air naik, suara sirene itu bukan hanya alarm, tapi panggilan bagi kita semua untuk saling menjaga,” katanya, mengajak warga memahami makna kemanusiaan di balik sistem tersebut.


Ia juga menjelaskan pola operasi pembangkit, yang berjalan pukul 18.00–24.00 WIB dengan empat turbin. Meski air dibendung, aliran dasar tetap dijaga agar sungai tidak pernah kehilangan denyutnya. “Kami memastikan sungai tetap hidup. Bukan hanya untuk PLTA, tapi untuk masyarakat yang menggantungkan hidup pada aliran airnya,” tegasnya.


Dari sisi sosial, PT NSHE memaparkan rutinitas mereka menyambangi warga di berbagai wilayah—Batangtoru, Muara Batangtoru, hingga Angkola Sangkunur. Upaya ini dilakukan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dari proyek besar, tetapi penerima manfaat informasi yang jelas, akurat, dan berkelanjutan. Pendekatan ini membuat komunikasi terasa lebih dekat, tidak sekadar formalitas perusahaan.


Hadir dalam kegiatan ini para kepala desa dan lurah dari Desa Perkebunan Sigalagala, Perkebunan Batangtoru, Perkebunan Hapesong, Kelurahan Wek I, Wek II, dan Kelurahan Perkebunan Batangtoru. Turut hadir Camat Batangtoru Mara Tinggu, SAP, unsur Forkopimcam, BPBD, serta Dinas Kesehatan Tapanuli Selatan, menunjukkan bahwa kesiapan masyarakat tidak hanya menjadi urusan satu pihak, melainkan kerja kolektif.


Acara ditutup oleh Camat Batangtoru dengan penuh harapan. “Mudah-mudahan kegiatan ini membawa berkah bagi kita semua,” ujarnya sebelum menutup pertemuan secara resmi dengan ucapan alhamdulillah. Di wajah para peserta, tersirat ketenangan baru: mereka pulang bukan hanya membawa informasi, tetapi juga rasa aman dan kepedulian yang tumbuh dari pertemuan hari itu.

(PS/BERMAWI)




Komentar Anda

Terkini: