POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di balik deretan angka kerusakan yang tercatat dalam rekapitulasi resmi, terdapat cerita-cerita manusia yang berjuang mempertahankan hidupnya di Kecamatan Sayurmatinggi. Dari total 1.442 KK dan 5.570 jiwa yang terdampak, hingga 1.158 KK atau 4.606 jiwa terpaksa mengungsi, setiap keluarga memiliki kisah tentang kehilangan, harapan, dan keberanian menghadapi bencana yang datang tanpa aba-aba.
Di Kelurahan Sayurmatinggi, daerah dengan dampak paling besar, suasana posko pengungsian memperlihatkan wajah-wajah lelah yang masih menyimpan kecemasan. Seorang ibu muda, sambil menggendong bayinya yang baru berusia enam bulan, bercerita bahwa ia harus berlari meninggalkan rumah saat air sungai tiba-tiba meluap dan menghantam dinding dapurnya. “Kami tidak membawa apa-apa, hanya baju di badan,” ujarnya lirih. Di wilayah ini, 473 KK atau 1.892 jiwa mengungsi setelah rumah mereka mengalami kerusakan—mulai dari hanyut, rusak berat, hingga rusak ringan.
Sementara itu di Desa Tolang Julu, suasana duka juga terasa kuat. Desa yang berada di lereng perbukitan ini menyaksikan 72 unit rumah terdampak, dengan 20 di antaranya rusak berat. Warga seperti Pak Saharuddin, seorang petani kopi, hanya dapat berdiri menatap bekas pondasi rumahnya yang kini rata dengan tanah. “Hujan deras malam itu seperti tidak berhenti, dan tanah tiba-tiba longsor. Kami hanya bisa pasrah,” tuturnya sambil menahan air mata.
Di desa lain, seperti Sipange Godang dan Somanggal Parmonangan, trauma warga justru datang dari angin puting beliung yang menyapu atap rumah mereka. 15 rumah rusak ringan di Sipange Godang dan 3 rumah di Somanggal tampak belum sepenuhnya tertutup. Di tengah dinginnya malam pegunungan, keluarga-keluarga di wilayah ini masih tidur bersama di ruang tamu sambil menunggu bantuan material untuk memperbaiki atap yang terbang diterjang angin.
Tak sedikit desa yang secara struktur rumahnya masih berdiri, seperti Sipange Julu, Mondang, dan Silaiya. Namun warga tetap memilih mengungsi karena tanah di sekitar rumah mulai retak, akses air bersih terganggu, dan kekhawatiran akan longsor susulan terus menghantui. “Tidur pun tidak tenang kalau tetap di rumah,” kata seorang warga Mondang yang menumpang di rumah kerabat.
Secara keseluruhan, Kecamatan Sayurmatinggi mencatat 158 unit rumah rusak, dengan rincian 26 hanyut atau hancur, 20 rusak berat, 45 rusak sedang, dan 67 rusak ringan. Namun lebih dari sekadar bangunan, yang ikut rusak adalah rasa aman warga—sesuatu yang sulit dihitung dengan angka.
Camat Sayurmatinggi, Enri Cofermi Batubara, S.Pd., M.Pd, menyampaikan bahwa pendataan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal untuk memastikan bantuan tepat sasaran. “Yang terpenting saat ini adalah memastikan para pengungsi mendapatkan tempat aman, akses pangan, air bersih, dan dukungan psikososial. Setelah itu, kita bergerak pada rekonstruksi dan upaya mitigasi jangka panjang,” ujarnya.
Meski berada dalam masa sulit, semangat gotong royong warga menjadi cahaya di tengah situasi muram. Di setiap posko, terlihat masyarakat saling berbagi makanan, selimut, dan tenaga. Tidak sedikit pula relawan yang turun dari desa ke desa untuk membantu membersihkan puing-puing rumah.
Di Sayurmatinggi, badai bukan hanya menguji kekuatan bangunan, tetapi juga keteguhan hati. Dan sejauh ini, warga terbukti tetap berdiri, saling menopang, dan perlahan membangun kembali kehidupan mereka yang sempat runtuh. (PS/BERMAWI)
.
