POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Langit sore yang menggelap pada Selasa, 25 November 2025, menjadi pertanda duka bagi warga Lingkungan 3 Kelurahan Pasar Sempurna, Kecamatan Marancar. Hujan yang turun sejak siang melemahkan tebing di kawasan kebun Jalan Maheam, hingga akhirnya longsor besar terjadi. Di balik suara gemuruh tanah yang runtuh itu, satu nama hilang—Amsaruddin Situmeang—seorang ayah muda yang dikenal pekerja keras dan tulus pada siapa saja yang mengenalnya.
Bagi warga Aek Toras, Amsaruddin bukan sekadar petani yang setiap hari bergelut dengan tanah. Ia adalah sahabat yang ringan tangan, ayah yang tak pernah lelah mencari nafkah, serta pribadi yang selalu menyapa. Saat tanah longsor menimbun kebun tempatnya bekerja, tanpa disadari ia telah menghabiskan detik-detik terakhir hidupnya di tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.
Lurah Pasar Sempurna, Leli Khairani, SKM, menerima kabar hilangnya Amsaruddin saat hujan masih mengguyur. Tanpa menunggu terang, ia langsung menuju lokasi bersama beberapa warga. “Kami hanya membawa cangkul dan lampu senter,” ujarnya lirih. Saat itu, tidak ada alat berat, tidak ada perlengkapan khusus—yang ada hanyalah harapan dan keberanian. Warga menggali tanah basah dengan tangan gemetar, sambil memerhatikan tebing yang terus bergerak. Tidak ada yang pulang. Semua bertahan, seolah cahaya kecil di tengah gelap harus dijaga bersama.
Malam itu menjadi saksi kebersamaan yang tak direncanakan. Lampu-lampu seadanya menyala, doa-doa dipanjatkan lirih, dan setiap sekop tanah diangkat dengan penuh harap. Pencarian dilanjutkan hingga dini hari, namun Amsaruddin belum ditemukan. Wajah-wajah lelah terlihat jelas, tetapi tak ada yang menyerah.
Hari kedua, Rabu, 26 November 2025, bantuan mulai berdatangan. Polsek Batangtoru, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat kelurahan bergabung memperluas area pencarian. Mereka memetakan ulang titik longsor sambil menjaga keselamatan seluruh relawan. Meski cuaca tak menentu dan kondisi tanah masih labil, semua sepakat bahwa pencarian harus diteruskan. “Ini tentang kemanusiaan,” kata seorang petugas sambil menyeka keringat di wajahnya.
Titik terang itu akhirnya datang pada Kamis, 27 November 2025. Alat berat yang tiba sejak pagi bergerak perlahan, mengangkat lapisan tanah yang menimbun lokasi kejadian. Warga, aparat, dan keluarga menunggu dengan napas yang sama-sama tertahan. Tepat pukul 16.00 WIB, tubuh Amsaruddin ditemukan. Tangis langsung pecah. Beberapa warga memeluk satu sama lain, sementara yang lain menunduk, tak sanggup menahan haru. Meski diliputi kesedihan mendalam, ada rasa lega bahwa pencarian selama tiga hari itu tidak sia-sia.
Jenazah dibawa ke rumah duka, dan satu per satu warga berdatangan. Pada pukul 17.00 WIB, Amsaruddin dimandikan, dishalatkan, dan dikebumikan dengan penghormatan penuh. Warga dari berbagai lingkungan hadir, menegaskan bahwa almarhum bukan hanya bagian dari keluarganya, tetapi bagian dari hati seluruh komunitas.
Dalam keterangannya pada Selasa (2/12/2025), Lurah Leli Khairani menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang ikut berjibaku dalam proses pencarian. Ia juga mengingatkan agar warga lebih waspada terhadap ancaman longsor pada musim hujan. “Musibah ini pengingat bagi kita bahwa keselamatan harus menjadi prioritas,” ucapnya.
Peristiwa longsor ini meninggalkan luka yang tak mudah hilang. Namun, dari setiap air mata dan setiap tenaga yang dikerahkan, tampak jelas bahwa masyarakat Kelurahan Pasar Sempurna punya kekuatan yang tak bisa runtuh begitu saja: kekuatan untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan memastikan tak ada satu pun saudara yang dibiarkan sendirian dalam duka.(PS/BERMAWI)
