Gotong Royong Tiga Desa Bangkitkan Harapan Pascabencana Longsor di Angkola Barat, Sekcam Ahmad Pilihan Turun Langsung Bersama Warga

/ Jumat, 05 Desember 2025 / 16.20.00 WIB

Sekcam Angkola Barat Ahmad Pilihan S.Pd Ikut terjun di Lokasi Longsor

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suasana haru dan harapan menyelimuti warga Desa Sibangkua, Aek Nabara, dan Parsalakan pada Jumat (5/12/2025). Di tengah tumpukan tanah basah, batu berserakan, dan pepohonan tumbang akibat longsor yang memutus akses utama antardesa, ratusan warga berkumpul sejak matahari belum tinggi—bukan untuk berkeluh kesah, melainkan untuk bangkit bersama.


Di jalan yang rusak berat itu, terlihat para pemuda saling bergantian memecah batu besar, sementara bapak-bapak mengikis tanah yang menutup badan jalan. Di sisi lain, para ibu dengan penuh ketulusan menyiapkan kopi panas dan makanan sederhana, memastikan energi para pekerja tidak surut. Suasana gotong royong yang lahir dari kepedulian itu menciptakan kehangatan di tengah sisa-sisa bencana.


Kehadiran Tim Koordinator Posko Bencana Kecamatan Angkola Barat turut memberi rasa aman bagi warga. Mereka memantau potensi gerakan tanah susulan sekaligus membantu mengarahkan proses pembersihan jalur agar tetap memperhatikan keselamatan. Meski bekerja dengan alat seadanya, semangat warga sama sekali tidak surut—setiap ayunan cangkul seolah menjadi simbol tekad untuk tidak menyerah pada keadaan.


Sekretaris Kecamatan Angkola Barat Ahmad Pilihan, S.Pd, yang hadir mewakili Camat, tidak hanya datang memberi arahan. Ia turun langsung memegang cangkul, berbaur tanpa jarak dengan warga. Sikap tersebut menjadi penyemangat tersendiri. “Akses jalan ini adalah penghubung kehidupan warga. Kita harus berupaya bersama agar desa-desa ini tidak terisolasi terlalu lama,” ujarnya dengan napas terengah setelah ikut mengeruk tanah.


Para kepala desa—Surya Darma Siregar, SE (Parsalakan), Sulaeman Pardosi (Aek Nabara), dan Ali Amron Hutasuhut (Sibangkua)—juga memimpin dari barisan terdepan. Mereka bukan sekadar mengawasi; masing-masing terlihat ikut mengangkat batu, mengatur jalur aliran air, bahkan menyemangati warga satu per satu. Model kepemimpinan yang tidak berjarak ini menjadi jembatan emosional yang memperkuat kebersamaan masyarakat.


Di balik kerja keras itu, warga masih membawa rasa takut. Longsor terjadi tiba-tiba beberapa hari sebelumnya, dan hingga kini sebagian tanah terlihat masih labil. Namun rasa aman yang dibangun dari kebersamaan membuat mereka tetap melangkah. “Kalau kita tidak mulai hari ini, jalan ini tidak akan terbuka. Kami ingin anak-anak bisa sekolah lagi, warga bisa belanja, dan orang sakit bisa dijemput kendaraan,” ujar seorang ibu sambil menyeka keringat.


Meski sejumlah titik sudah dapat dilalui kendaraan roda dua, material longsor yang tebal masih menunggu penanganan alat berat. Namun warga sadar, pemulihan mental dan harapan tidak harus menunggu kedatangan mesin. Saling merangkul, bekerja bersama, dan memastikan tidak ada yang merasa sendiri—itulah pemulihan sesungguhnya yang lebih cepat terjadi.


Di Angkola Barat, hari itu bukan hanya tentang membuka jalan. Ini tentang membuka kembali harapan. Bencana mungkin memutus akses, tetapi tidak pernah memutus solidaritas warganya. (PS/BERMAWI)




Komentar Anda

Terkini: