POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN — Di tengah kecemasan yang menyelimuti banyak keluarga akibat bencana banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatera, Kepala Desa Siloting, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Suroto, menyampaikan imbauan penuh kepedulian kepada warganya. Dengan suara yang tenang namun tegas, ia meminta masyarakat untuk menahan diri agar tidak bepergian ke daerah yang tengah terdampak bencana.
Di ruang kerjanya yang sederhana, Suroto menuturkan bahwa imbauan ini bukan sekadar perintah, melainkan bentuk kasih dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap keselamatan warganya. “Saya tahu banyak yang ingin melihat kondisi keluarga atau kerabat di luar desa, tapi saat ini situasinya sangat berbahaya. Kita harus mendahulukan keselamatan,” ujarnya.
Imbauan tersebut sejalan dengan peringatan BMKG yang menyebutkan intensitas hujan ekstrem masih tinggi. Di lapangan, kondisi tanah yang jenuh air telah menyebabkan longsor berulang di daerah perbukitan dan banjir kiriman di dataran rendah. Setidaknya 13 kecamatan di Tapanuli Selatan serta bagian wilayah Madina, Medan, Sumatera Barat, hingga Aceh kini menghadapi kerusakan yang meluas. Di banyak titik, jalan terputus, jembatan retak, dan aliran sungai berubah tiba-tiba — menciptakan ketidakpastian bagi siapa saja yang melintas.
Menurut Suroto, keinginan warga untuk “melihat-lihat” lokasi bencana sering kali muncul dari rasa penasaran atau empati, namun justru itu yang dikhawatirkan dapat menambah korban. “Kami menerima laporan jalur licin, tebing rapuh, sampai potensi longsor susulan. Petugas pun masih kesulitan menjangkau beberapa titik. Kami mohon masyarakat jangan menambah risiko,” katanya.
Di balik imbauan itu, Suroto dan aparat desa terus berjaga lebih dari biasanya. Malam hari mereka melakukan ronda untuk memantau retakan tanah baru, sementara siang hari mereka memastikan aliran sungai kecil di desa tidak menunjukkan tanda-tanda meluap. Teknologi sederhana seperti radio komunikasi desa kembali dihidupkan, menjadi alat penting untuk menyampaikan informasi darurat secara cepat.
Bagi Suroto, keselamatan warga adalah prioritas utama. Ia mengaku lebih memilih warganya tetap berada di rumah, berkumpul bersama keluarga, daripada mengambil risiko perjalanan yang belum tentu aman. “Kita semua sedang diuji. Tapi selama kita saling menjaga, saya yakin semuanya bisa dilalui,” ucapnya pelan.
Ia berharap masa sulit ini dapat dilalui tanpa pertambahan korban. Dengan mata yang sedikit berkaca, Suroto menambahkan, “Bencana ini mungkin belum berakhir. Tapi kewaspadaan dan kebersamaan kita adalah benteng pertama.”
Dengan pesan penuh empati itu, ia menutup imbauannya dan mengajak seluruh masyarakat Desa Siloting untuk menunda perjalanan yang tidak mendesak, menjaga keluarga, dan tetap waspada sepanjang masa hujan ekstrem ini.(PS/BERMAWI)
