Syamsul Lubis S.Pd M.Pd
-Di balik gemuruh sorak penonton dan kilau medali di setiap ajang olahraga, tersimpan proses panjang yang jarang tersorot kamera: pembinaan atlet. Mulai dari pembibitan usia dini, pemanduan bakat, hingga sistem kompetisi berjenjang. Menjelang Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (PORPROVSU) 2026, momentum ini menjadi cermin penting untuk menakar sejauh mana keseriusan Padangsidimpuan membangun fondasi prestasi olahraga yang berkelanjutan.
Pembinaan olahraga sejatinya bukan agenda musiman yang hanya hidup menjelang kejuaraan. Ia adalah kerja jangka panjang yang membutuhkan perencanaan matang, konsistensi program, dan keberpihakan kebijakan. Di lapangan, banyak atlet daerah tetap berlatih dengan fasilitas terbatas, sementara pelatih lokal mengabdikan diri lebih karena kecintaan pada olahraga ketimbang dukungan yang memadai. Dedikasi ini patut diapresiasi, sekaligus menjadi pengingat bahwa pembinaan perlu ditata dengan lebih serius.
Salah satu tantangan utama yang masih dihadapi adalah belum terbangunnya sistem pembinaan yang berjenjang dan terintegrasi. Pembinaan usia dini, khususnya di lingkungan sekolah, belum sepenuhnya terkoneksi dengan program cabang olahraga dan arah kebijakan daerah. Akibatnya, banyak potensi atlet muda berkembang secara alamiah tanpa pendampingan berkelanjutan, bahkan tidak sedikit yang terhenti di tengah jalan.
Semarak olahraga di Padangsidimpuan juga masih kerap berorientasi pada event. Program latihan intensif biasanya muncul menjelang kejuaraan, lalu meredup setelah kompetisi usai. Pola ini membuat prestasi sulit tumbuh secara konsisten.
Seharusnya,PORPROVSU ditempatkan sebagai puncak dari proses pembinaan panjang, bukan sebagai titik awal persiapan instan, apalagi ajang ini menjadi gerbang menuju PON 2028.
Meski demikian, harapan tetap menyala. Dari berbagai kejuaraan daerah, antar klub, kelompok umur, maupun antar sekolah di Sumatera Utara, nama Padangsidimpuan masih kerap muncul sebagai kandidat juara.
Ini menandakan adanya potensi besar, baik pada cabang olahraga individu maupun tim. Antusiasme pemuda terhadap olahraga masih tinggi, klub dan komunitas tetap bertahan di tengah keterbatasan, dan sekolah-sekolah menyimpan sumber daya atlet muda yang sangat menjanjikan.
Modal sosial inilah yang semestinya dikelola secara lebih terarah. Fokus pada pembinaan atlet pelajar, penguatan kapasitas pelatih lokal, penyediaan sarana latihan yang layak, serta penerapan pendekatan sport science menjadi langkah penting. Pendekatan ilmiah tidak harus mahal atau rumit, tetapi bisa dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan praktisi pendidikan olahraga.
Harus diakui, pembinaan olahraga tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah. Prestasi adalah hasil kerja kolektif. Peran sekolah, orang tua, komunitas olahraga, dunia usaha, dan media lokal sangat menentukan terciptanya ekosistem olahraga yang sehat. Dari sinergi inilah akan lahir atlet-atlet yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter disiplin, tangguh, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Menjelang PORPROVSU 2026, Padangsidimpuan dihadapkan pada pilihan penting: menjadikan ajang ini sekadar target jangka pendek, atau momentum pembenahan pembinaan olahraga secara menyeluruh. Menakar keseriusan berarti berani berbenah sejak sekarang, menata sistem, dan memastikan keberlanjutan program. Sebab podium kehormatan tidak lahir dari persiapan sesaat, melainkan dari proses panjang yang konsisten dan berkelanjutan.
Salam olahraga.
