Syamsul Lubis, S.Pd., M.Pd., Guru SMAN 1 Padangsidimpuan
Momentum penerimaan Rapor Semester Ganjil Tahun 2025 tak hanya menjadi ajang evaluasi capaian akademik peserta didik. Bagi Syamsul Lubis, S.Pd., M.Pd., Guru SMAN 1 Padangsidimpuan, momen ini justru menghadirkan refleksi mendalam tentang makna nilai, kecerdasan, dan masa depan anak—sebuah kenangan yang membawanya pada sosok alumni bernama Mahmul Harahap.
Di tengah kecenderungan masyarakat yang masih memandang kecerdasan anak semata-mata dari angka rapor, Syamsul menilai pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan potensi manusia. Anak dengan nilai tinggi sering dielu-elukan sebagai simbol kesuksesan masa depan, sementara mereka yang nilainya biasa atau rendah kerap dipinggirkan.
Padahal, realitas pendidikan menunjukkan bahwa kecerdasan hadir dalam rupa yang jauh lebih beragam.
Syamsul menegaskan, paradigma pendidikan kini perlahan mulai berubah. Banyak sekolah telah membuka ruang apresiasi lebih luas bagi siswa yang memiliki keunggulan non-akademik—seni, budaya, olahraga, hingga kreativitas panggung. Dukungan sekolah dan lingkungan, menurutnya, menjadi support system penting yang mampu menguatkan anak-anak bertalenta agar tumbuh percaya diri dan berprestasi di bidangnya masing-masing.
Sebagai pendidik, Syamsul mengaitkan refleksi tersebut dengan teori Multiple Intelligences yang dikemukakan psikolog Howard Gardner. Teori ini menyatakan bahwa kecerdasan manusia tidak tunggal, melainkan mencakup kecerdasan musikal, kinestetik, spasial, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan lainnya. Setiap anak memiliki kombinasi kecerdasan yang unik, dan tugas pendidikan adalah mengenali serta mengembangkannya.
Dalam perjalanannya sebagai guru, Syamsul mengaku kerap berhadapan dengan siswa yang dianggap “biasa saja” di kelas, kurang tertarik pada pelajaran akademik, bahkan mudah mendapat label negatif.
Salah satunya adalah Mahmul Harahap, alumnus jurusan IPS yang dulu dikenal lebih akrab dengan drum dan panggung hiburan dibanding buku pelajaran.
Mahmul, yang berasal dari keluarga sederhana dan kehilangan ayah sebagai tulang punggung keluarga, menjalani masa sekolah dengan penuh tantangan.
Secara akademik ia mengalir apa adanya. Namun di balik itu, Mahmul memiliki dunia sendiri: musik dan panggung hiburan. Ia berlatih serius, mengikuti tur artis, menambah jam terbang, bahkan pernah meminta izin sekolah demi tampil sebagai pengiring musisi ternama. “Ini bagian dari proses saya, Pak,” ucapnya kala itu.
Waktu pun membuktikan pilihannya. Pada November 2024, bertepatan dengan Hari Guru dan HUT PGRI, Mahmul kembali ke almamaternya dengan wajah yang berbeda. Bersama grupnya, PT Koalesi, ia menghadirkan artis nasional Jen Manurung untuk tampil gratis di SMAN 1 Padangsidimpuan. Tak sekadar hiburan, kehadiran itu menjadi ruang berbagi mimpi bagi siswa—bahwa hobi, bila ditekuni dengan serius, bisa menjelma profesi bermartabat.
Kebanggaan tak bisa disembunyikan Syamsul. Mahmul yang dulu kerap dipanggil karena urusan tugas, kini berdiri sebagai alumni yang menginspirasi. Ia kembali bukan sebagai anak yang dinilai dari angka, melainkan sebagai pribadi yang menemukan jalannya sendiri dan tetap mencintai sekolah tempatnya tumbuh.
Berkaca dari kisah Mahmul, Syamsul mengajak orang tua, pendidik, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk meninjau ulang cara memaknai nilai. Anak dengan nilai rendah bukan berarti tak memiliki masa depan—mungkin mereka hanya belum bertemu metode, ruang, dan dukungan yang tepat.
“Tugas kita bukan memilih siapa yang layak diapresiasi,” ujar Syamsul, “melainkan memastikan setiap anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga, dengan cara dan potensi yang ia miliki.”
Refleksi ini menjadi pesan hangat di balik pembagian rapor: bahwa pendidikan sejatinya adalah tentang memanusiakan manusia, menemukan bakat, mengasah talenta, dan mengantarkan setiap anak menuju pentas juara versinya sendiri.
