Dalam laporan resmi BPBD per 8 Desember 2025, bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 2.200 warga mengungsi, sebagian besar ke rumah keluarga dan kerabat. Satu posko darurat utama masih beroperasi di Sopo Godang HKBP Parbotihan, Kecamatan Onan Ganjang, untuk menampung warga yang tidak dapat kembali ke rumah.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Humbahas, Sabar H. Purba, menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis sejak menerima laporan kerusakan dari desa-desa terdampak. Namun akses menuju sejumlah titik bencana sempat terhambat material longsor dan kondisi cuaca ekstrem.
“Pemerintah daerah bergerak cepat. Evakuasi warga, distribusi bantuan, dan pemulihan infrastruktur menjadi prioritas utama. Kami berupaya melakukan yang terbaik untuk mengurangi risiko lebih besar,” ujar Sabar.
Tim investigasi lapangan menemukan bahwa sedikitnya lima jembatan mengalami kerusakan berat, mengganggu mobilitas warga serta distribusi kebutuhan pokok. Sejumlah ruas jalan utama di Dolok Sanggul, Lintong Nihuta, dan Pollung sempat terputus akibat tumpukan tanah dan pohon tumbang.
Di sektor pertanian, kerusakan mencapai 837 hektare, mencakup sawah, ladang jagung, bawang, dan tanaman hortikultura lain yang menjadi penopang ekonomi masyarakat. Kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah dan berdampak jangka panjang pada rantai pasokan lokal.
Di Desa Huta Gurgur, Kecamatan Dolok Sanggul, satu warga dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa pohon yang tumbang akibat angin kencang dan tanah yang tidak stabil. Desa Janji dan Silagalaga juga mengalami banjir cukup parah karena meluapnya Aek Sibundong, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.
Pemkab Humbahas memperpanjang Status Tanggap Darurat dari tanggal 4 hingga 10 Desember 2025 untuk memastikan seluruh langkah penanganan dapat dilakukan tanpa hambatan administratif.
Perpanjangan status ini memungkinkan pemerintah mengerahkan personel tambahan, mempercepat pengadaan logistik, dan memobilisasi alat berat dengan prosedur darurat.
Dari penelusuran tim dan bukti awal, terdapat sejumlah faktor yang memperparah dampak bencana:
- Curah hujan ekstrem di atas rata-rata dalam dua pekan berturut-turut.
- Drainase desa yang belum optimal, terutama di daerah pemukiman padat.
- Lereng curam dan tingginya tingkat pelapukan tanah.
- Potensi penurunan tutupan vegetasi di beberapa lahan miring.
- Sungai-sungai kecil yang melintasi desa tidak mampu menampung debit air mendadak.
Meski belum dapat disimpulkan secara definitif, BPBD menyatakan bahwa mitigasi jangka panjang harus mencakup penguatan sistem peringatan dini, inspeksi berkala daerah rawan longsor, serta perbaikan tata kelola daerah aliran sungai (DAS).
Sabar H. Purba meminta seluruh masyarakat tetap waspada mengingat cuaca ekstrem diprediksi berlanjut. “Kami meminta warga di lereng dan bantaran sungai tidak lengah. Tim kami terus melakukan patroli dan pemantauan lapangan, namun kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci,” ujarnya. (PS/BN)
