Ketua DPD Partai NasDem Tapanuli Selatan, Drs. H. Maas Siagian, yang juga menjabat sebagai Ketua IKAPSI Tabagsel
POSKOTASUMATERA.COM | TAPSEL — Tahun 2025 telah berlalu dengan meninggalkan jejak yang tidak ringan bagi banyak lapisan masyarakat. Tekanan ekonomi, bencana alam, hingga dinamika sosial menjadi ujian bersama yang menguras energi sekaligus emosi. Memasuki Tahun 2026, refleksi atas perjalanan tersebut tak sekadar menjadi rutinitas pergantian waktu, melainkan ruang perenungan untuk bangkit dengan arah yang lebih jelas dan bermakna.
Hal itu disampaikan Ketua DPD Partai NasDem Tapanuli Selatan, Drs. H. Maas Siagian, yang juga menjabat sebagai Ketua IKAPSI Tabagsel. Dengan nada penuh empati, ia mengajak masyarakat menjadikan luka-luka masa lalu sebagai sumber pembelajaran, bukan alasan untuk berhenti berharap.
Menurutnya, masa depan hanya bisa dibangun oleh mereka yang berani menatap kenyataan, namun tidak kehilangan keyakinan.
“Tahun 2025 memang berat. Banyak keluarga diuji, banyak harapan tertunda. Tetapi di tengah keterbatasan itu, kita menyaksikan satu hal yang tetap hidup: cinta dan kepedulian antarsesama,” ujar Maas Siagian.
Ia menilai, nilai-nilai kemanusiaan tersebut adalah fondasi terkuat yang membuat masyarakat Tapanuli Selatan tetap bertahan.
Bagi Maas Siagian, kekuatan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari seberapa erat hubungan antarmanusianya.
Ia menegaskan bahwa empati, gotong royong, dan solidaritas sosial sering kali menjadi penopang utama ketika sistem dan struktur belum sepenuhnya mampu menjawab krisis.
Memasuki Tahun 2026, Maas Siagian berharap refleksi tidak berhenti pada kata-kata. Ia mendorong agar harapan dan rencana yang selama ini dirumuskan benar-benar diwujudkan dalam langkah nyata.
Menurutnya, inilah saat yang tepat untuk beralih dari wacana menuju implementasi—dari niat baik menuju aksi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia juga mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, partai politik, tokoh masyarakat, hingga generasi muda, untuk memperkuat kolaborasi. Baginya, pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika dikerjakan bersama, dengan saling percaya dan saling menguatkan.
Sebagai Ketua IKAPSI Tabagsel, Maas Siagian menaruh harapan besar pada peran kaum intelektual dan alumni. Ia percaya, ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang dimiliki para akademisi dapat menjadi cahaya penuntun dalam merumuskan solusi nyata bagi persoalan masyarakat, terutama di masa pemulihan pascakrisis.
Menutup pernyataannya, Maas Siagian menyampaikan optimisme yang bersahaja. Ia berharap Tahun 2026 menjadi titik kebangkitan bersama—tahun di mana masyarakat Tapanuli Selatan melangkah dengan hati yang telah ditempa oleh pengalaman, pikiran yang terbuka pada ilmu, dan semangat kebersamaan yang semakin kokoh. (PS/BERMAWI)
.jpg)