Kegiatan yang berlangsung di Musholla Al-Ikhlas, Kuala Batahan, ini dihadiri oleh pemuda setempat, tokoh adat, serta unsur masyarakat yang memiliki kegelisahan serupa terhadap kondisi sosial generasi muda saat ini.
Diskusi berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh makna. Salah seorang tokoh adat sekaligus Ninik Mamak yang hadir menegaskan bahwa adat bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sistem nilai yang mengatur perilaku, etika, serta arah kehidupan bermasyarakat.
Dalam pemaparannya, ia mengibaratkan kehidupan nagari sebagai “tungku nan tigo” yang menjadi fondasi utama keberlangsungan adat dan moral masyarakat.
“Tungku nan patamo adalah alim ulama, yang menjadi pelita di kala kegelapan, duduk bakitab dan tegak ba pituah. Tungku nan kaduo adalah cerdik pandai, tokoh adat, dan tokoh masyarakat yang tahu jati diri kampung, di nan buruk badihambuan, di nan baik basi imboan. Tungku nan katigo adalah angkatan muda, generasi penerus estafet pelestarian adat di kampung kita,” ungkapnya.
Ia menegaskan, apabila salah satu tungku rapuh - terutama peran pemuda - maka keseimbangan nagari akan terganggu. Kondisi tersebut, menurutnya, mulai tampak dari meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan pemuda, seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan berbagai bentuk maksiat yang merusak masa depan generasi muda di Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal.
Dalam kesempatan itu, ia kembali menegaskan prinsip adat yang tidak lekang oleh zaman, yakni “syara’ nan mangato, adat nan mamake.”
“Adat itu indak ka lapuak dek hujan, indak ka lakang dek paneh. Adat bukan hanya baralek sajo, tetapi aturan yang mengatur babuek jo bayiek dalam kehidupan. Adat itulah pagar diri dari maksiat dan kerusakan moral,” tegasnya.
Ketua Forum Pemuda Batahan (FORPEBA), Fadil Fauzan, mengakui bahwa sebagian pemuda saat ini mulai kehilangan arah akibat terputus dari nilai adat dan nilai agama.
“Kami melihat sendiri bagaimana hari ini sebagian pemuda lupa dengan adat yang sebenar adat. Ketika adat dan agama ditinggalkan, ruang itu diisi oleh narkoba, maksiat, dan perilaku merusak lainnya. Diskusi ini kami gelar sebagai ikhtiar membangunkan kembali kesadaran pemuda, bukan hanya sebagai generasi penerus, tetapi juga pelurus,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua FORPEBA, Zilgio Winata, menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen menjadikan adat bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan solusi konkret dalam membentengi generasi muda dari krisis moral dan sosial.
“Adat tidak akan bertahan tanpa keterlibatan generasi muda. Karena itu, FORPEBA ingin menjadikan adat sebagai gerakan pemuda - bukan hanya simbol, tetapi nilai yang hidup dalam keseharian,” katanya.
Melalui kegiatan ini, FORPEBA berharap terbangun kembali sinergi antara pemuda, tokoh adat, dan alim ulama untuk menghidupkan adat sebagai pedoman hidup, sekaligus menjadi benteng sosial dalam menghadapi tantangan zaman di Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal.
Kegiatan ini menjadi penegasan bahwa kebangkitan adat merupakan bagian dari upaya menyelamatkan masa depan pemuda serta menjaga marwah kampung agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur warisan leluhur. (PS/210)
