POSKOTASUMATERA.COM | TAPSEL — Fenomena solidaritas sosial berbasis kekerabatan kembali teraktualisasi melalui aksi kemanusiaan yang dilakukan Keluarga Besar Parsadaan Toga Siregar (PATOGAR) Indonesia. Organisasi yang dipimpin Ketua Umum Kombes (Purn) Drs. Parluatan Siregar, MH, bergelar Daulat Raja Martua Parluatan Siregar, menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak bencana alam di Kabupaten Tapanuli Utara, Kamis (31/12/2025).
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara terencana dan terkoordinasi dengan menyasar tiga wilayah yang terdampak signifikan, yakni Kecamatan Simangumban, Kecamatan Pahae, serta Kecamatan Sipirok, khususnya di kawasan Pengkolan Batu Jomba. Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari respons sosial PATOGAR dalam mendukung pemulihan kebutuhan dasar masyarakat pascabencana.
Dari perspektif manajemen kebencanaan, bantuan logistik berupa sembako memiliki peran krusial dalam fase tanggap darurat dan transisi menuju pemulihan.
Paket bantuan yang disalurkan PATOGAR difokuskan untuk memenuhi kebutuhan primer warga, terutama kelompok rentan yang mengalami gangguan akses pangan akibat bencana alam.
Sebelumnya, PATOGAR Indonesia juga telah menyalurkan bantuan serupa ke sejumlah daerah terdampak bencana lainnya, seperti Mandailing Natal (Madina), Tapanuli Selatan (Tapsel), Sibolga, dan Tapanuli Tengah (Tapteng). Konsistensi ini menunjukkan keberlanjutan peran organisasi sebagai agen solidaritas sosial lintas wilayah.
Aksi kemanusiaan tersebut bersumber dari partisipasi kolektif para perantau PATOGAR yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Donasi mengalir dari Jakarta, Surabaya, Solo, Medan, hingga wilayah timur Indonesia, sebagai refleksi keterikatan emosional yang kuat antara komunitas perantau dan kampung halaman. Secara khusus, bantuan ini diperuntukkan bagi warga Simangumban Dolok dan Simangumban Julu yang terdampak langsung oleh bencana.
Respons emosional warga penerima bantuan tampak jelas dalam setiap titik penyaluran. Rasa haru dan syukur mewarnai interaksi antara masyarakat dan rombongan PATOGAR.
Kehadiran langsung Ketua Umum PATOGAR bersama pengurus dinilai tidak hanya membawa dukungan material, tetapi juga memperkuat ketahanan psikososial warga melalui kehadiran simbolik persaudaraan.
Dalam keterangannya, Ketua Umum PATOGAR Daulat Raja Martua Parluatan Siregar menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan manifestasi empati kolektif dan panggilan moral untuk membantu saudara semarga—iboto, boru, bere, dongan tubu, hingga inang—yang tengah menghadapi musibah. Ia menegaskan bahwa PATOGAR berfungsi sebagai penyalur amanah dari para perantau yang berdonasi dari berbagai wilayah, seperti Timika, Bali, NTB, Bandung, Solo, Jawa, Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Jambi, Palembang, Batam, hingga Medan.
Secara sosiologis, aksi PATOGAR ini mencerminkan nilai kearifan lokal masyarakat Batak yang terformulasi dalam filosofi “manjappal tu perantauan, mangalgei tu bagasan”, yakni merantau untuk membangun kehidupan, namun tetap menyalurkan manfaat bagi kampung halaman. Nilai ini menjadi fondasi moral dalam memperkuat jejaring persaudaraan serta meningkatkan ketahanan sosial masyarakat di tengah situasi bencana.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Dusun Pengkolan, Rahman Siregar, mewakili warga penerima bantuan. Ia menilai bantuan PATOGAR Indonesia sangat berarti bagi masyarakat terdampak banjir. “Ini bukan sekadar bantuan sembako, tetapi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan persaudaraan masih hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Aksi kemanusiaan PATOGAR Indonesia ini menegaskan bahwa solidaritas berbasis kekerabatan dan budaya lokal dapat menjadi modal sosial yang efektif dalam mendukung penanganan bencana dan pemulihan masyarakat secara berkelanjutan.
(PS/BERMAWI)
