POSKOTASUMATERA.COM – MADINA — Dari sebuah sekolah negeri di Nagajuang, Kabupaten Mandailing Natal, lahir mimpi besar yang kini bergaung hingga panggung akademik internasional. Daniel Hutapea, alumni SMAN 1 Nagajuang, berhasil mengharumkan nama daerah setelah meraih beasiswa studi Doktor (S3) di Taiwan.
Prestasi ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi generasi muda dari daerah untuk berani melangkah dan bersaing di tingkat global.
Perjalanan akademik Daniel tidak instan. Setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan Magister (S2) melalui jalur beasiswa yang sama, ia kembali membuktikan konsistensi dan daya juangnya dengan lolos ke jenjang doktoral. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas yang kerap dihadapi pelajar daerah, Daniel menunjukkan bahwa ketekunan, disiplin, dan visi masa depan mampu membuka pintu kesempatan seluas-luasnya.
Saat ini, Daniel tengah fokus mengerjakan riset doktoralnya yang berjudul “Bridging the AI Divide: Investigating the Influence of AI Accessibility and AI Literacy on Learning Satisfaction among Students in Urban–Rural Areas in Indonesia, Mediated by Learning Engagement.”
Penelitian tersebut mengangkat persoalan nyata yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia, yakni kesenjangan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Melalui pendekatan ilmiah yang komprehensif, riset ini menganalisis bagaimana akses terhadap teknologi AI serta tingkat literasi AI memengaruhi kepuasan belajar peserta didik. Daniel juga menempatkan learning engagement atau keterlibatan belajar sebagai variabel penting yang menjembatani hubungan antara teknologi dan pengalaman belajar siswa.
Perspektif ini menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi harus diiringi dengan pemahaman dan keterlibatan aktif peserta didik.
Daniel menilai bahwa transformasi digital di sektor pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada penyediaan perangkat dan sistem teknologi. Tanpa literasi AI yang memadai, kemajuan justru berisiko memperlebar jurang kualitas pendidikan antara siswa di daerah urban dan rural. Pandangan ini lahir dari kepekaannya terhadap realitas pendidikan di daerah asalnya, yang masih menghadapi keterbatasan akses dan pendampingan teknologi.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi akademik sekaligus rekomendasi kebijakan berbasis data bagi pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan. Riset Daniel berpotensi menjadi rujukan dalam merumuskan strategi pemerataan pendidikan digital yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan, agar transformasi teknologi benar-benar menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Kepala SMAN 1 Nagajuang Mandailing Natal, Sulhan Hamid Lubis, M.Pd., menyampaikan rasa bangga atas capaian alumninya tersebut. Menurutnya, keberhasilan Daniel merupakan cerminan dari proses pendidikan yang menanamkan budaya belajar, daya juang, serta semangat berprestasi, meskipun berasal dari wilayah yang jauh dari pusat pendidikan nasional.
Kisah Daniel Hutapea kini menjadi inspirasi bagi generasi muda Mandailing Natal, khususnya siswa SMAN 1 Nagajuang. Prestasi ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk bermimpi besar dan berkontribusi bagi bangsa. Dari Nagajuang untuk dunia, Daniel menunjukkan bahwa riset dan inovasi adalah jalan pengabdian yang mampu mengangkat nama daerah dan Indonesia di mata global. (PS/BERMAWI)
