POSKOTASUMATERA.COM – TAPANULI SELATAN-Di balik tenda-tenda pengungsian yang berdiri sederhana di Kampung Marsada, Kecamatan Sipirok, tersimpan kisah keteguhan para ibu dan anak-anak yang berjuang memulihkan hidup setelah banjir dan longsor melanda wilayah mereka. Minggu pagi, 4 Januari 2026, secercah harapan hadir ketika Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Ibu Arifatul Choiri Fauzi, melangkahkan kaki langsung ke tengah para penyintas.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia disambut secara resmi oleh Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan bersama unsur Forkopimcam, Ketua TP PKK, serta para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lokasi pengungsian, sebagai bagian dari agenda kunjungan kerja untuk meninjau kondisi penyintas dan memastikan terpenuhinya kebutuhan spesifik perempuan dan anak pascabencana. Penyambutan ini mencerminkan koordinasi lintas sektor yang sistematis antara pemerintah pusat dan daerah dalam rangka penguatan tata kelola penanganan pengungsian berbasis perlindungan dan inklusivitas.
Sementara itu, di Guest House, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Tapsel beserta jajaran staf turut menyambut Menteri PPPA RI dalam suasana informal melalui kegiatan sarapan pagi bersama, yang dimanfaatkan sebagai forum komunikasi awal untuk menyelaraskan program, memperkuat sinergi kebijakan, serta membahas strategi implementatif perlindungan perempuan dan anak secara berkelanjutan di wilayah terdampak.
Kepala Dinas PPPA Tapsel, Hubban Hasibuan, yang tampak lega atas perhatian langsung dari pemerintah pusat. Turut mendampingi pula Kepala Dinas P3A & KB Provinsi Sumatera Utara, menandai kuatnya sinergi lintas pemerintahan.
Pos Pengungsian masyarakat Pengkolan Kampung Marsada menjadi lokasi yang sengaja dipilih untuk dikunjungi. Selama ini, lokasi tersebut terbilang jarang tersentuh kunjungan pejabat pusat maupun provinsi. Bahkan, kehadiran Menteri PPPA ini tercatat sebagai kunjungan menteri pertama ke pos pengungsian Marsada, sebuah momentum yang memberi arti tersendiri bagi warga.
Suasana haru menyelimuti tenda-tenda pengungsian ketika Menteri PPPA menyapa dan berbincang langsung dengan para ibu yang menggendong anak-anak mereka. Cerita kehilangan, rasa cemas, dan ketidakpastian masa depan mengalir apa adanya. Menteri mendengarkan dengan empati, menyadari bahwa bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan harta benda, tetapi juga meninggalkan luka batin yang mendalam, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
“Perempuan dan anak adalah kelompok yang paling terdampak secara psikologis dalam situasi bencana. Karena itu, negara harus hadir memberi rasa aman, perlindungan, serta penguatan mental agar mereka mampu bangkit,” tutur Menteri PPPA di hadapan warga pengungsian.
Sebagai bentuk kepedulian konkret, Kementerian PPPA menyalurkan bantuan kepada 100 anak-anak dan 100 perempuan dewasa yang terdampak bencana. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu kebutuhan dasar sehari-hari sekaligus menjadi simbol kehadiran negara di tengah masa sulit yang mereka hadapi.
Harapan perlahan tumbuh saat kegiatan trauma healing digelar di area pengungsian. Dipandu oleh Kak Indri dari Medan, anak-anak diajak bermain, bernyanyi, dan mengekspresikan diri melalui aktivitas kreatif. Tawa kecil yang kembali terdengar di antara tenda-tenda menjadi obat sederhana bagi luka batin yang sempat membekas akibat bencana.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dibawah kepemimpinan Bapak H.Gus Irawan Pasaribu menyampaikan Terimkasih dan apresiasi mendalam atas perhatian dan kehadiran Menteri PPPA Republik Indonesia beserta jajaran. Sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci penting dalam proses pemulihan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan emosional.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, nilai kemanusiaan harus selalu menjadi yang utama. Negara hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga empati, harapan, dan komitmen untuk melindungi perempuan dan anak sebagai fondasi masa depan bangsa.
(PS/BERMAWI)
