Melindungi Generasi Muda, SMA Negeri 1 Angkola Selatan Gencarkan Edukasi Pernikahan Dini

/ Selasa, 03 Februari 2026 / 10.28.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL — Di tengah masa remaja yang penuh mimpi dan pencarian jati diri, SMA Negeri 1 Angkola Selatan mengambil langkah nyata untuk menjaga masa depan peserta didiknya. Sepanjang tahun 2026, sekolah ini aktif menggelar sosialisasi dan penyuluhan tentang bahaya pernikahan dini sebagai upaya melindungi generasi muda dari keputusan besar yang kerap diambil terlalu cepat.


Ratusan siswa dan siswi tampak memenuhi aula sekolah dengan wajah serius namun penuh rasa ingin tahu. Isu pernikahan dini yang selama ini dianggap tabu justru dibahas secara terbuka. Suasana diskusi berjalan hangat, diwarnai pertanyaan-pertanyaan jujur dari para remaja yang menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang ada di sekitar mereka.


Dalam pemaparannya, narasumber dari KUA Kecamatan Angkola Selatan menjelaskan bahwa pernikahan dini terjadi ketika seseorang menikah sebelum mencapai kematangan usia biologis dan psikososial. Remaja, menurutnya, masih berada pada fase penting pembentukan emosi, pola pikir, dan identitas diri. Tanpa kesiapan yang cukup,

 pernikahan justru berpotensi menimbulkan masalah panjang dalam kehidupan rumah tangga.


Kepala SMA Negeri 1 Angkola Selatan, Ansyaruddin, S.Pd., menegaskan bahwa sekolah tidak hanya bertugas mencerdaskan secara akademik, tetapi juga membimbing siswa dalam mengambil keputusan hidup. “Kami ingin anak-anak memahami bahwa masa depan mereka terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh keputusan yang terburu-buru,” ujarnya.


Dari sisi kesehatan, siswa mendapatkan penjelasan yang cukup menggugah. Kehamilan di usia muda, khususnya bagi remaja perempuan, berisiko menimbulkan berbagai komplikasi serius, mulai dari anemia, preeklamsia, hingga meningkatnya risiko kematian ibu dan bayi. Fakta-fakta ini membuat para siswa menyadari bahwa pernikahan dini bukan hanya soal norma sosial, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa.


Aspek pendidikan pun menjadi sorotan utama. Banyak remaja yang menikah di usia sekolah akhirnya harus mengubur cita-cita karena terpaksa putus sekolah. Kesempatan melanjutkan pendidikan dan memperbaiki taraf hidup menjadi semakin sempit, yang pada akhirnya dapat memperpanjang rantai kemiskinan dalam keluarga.


Dari sudut pandang psikologis, ketidaksiapan mental dinilai dapat memicu konflik rumah tangga, tekanan emosional, hingga kekerasan dalam keluarga. Remaja yang belum matang secara emosional cenderung lebih rentan mengalami stres dan kesulitan menghadapi tanggung jawab sebagai pasangan maupun orang tua.

Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 1 Angkola Selatan menegaskan komitmennya sebagai ruang aman dan edukatif bagi remaja.


 Sekolah berharap edukasi berkelanjutan tentang kesehatan reproduksi, karakter, dan literasi hukum dapat menjadi benteng awal pencegahan pernikahan dini.

Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi pesan kuat bahwa masa depan generasi muda layak diperjuangkan. Dengan pengetahuan dan kesadaran yang lebih baik, siswa diharapkan mampu merancang hidupnya dengan matang—menjadi generasi yang sehat, berpendidikan, dan berani bermimpi besar.

(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: