POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN – Pagi itu, suasana haru dan khidmat menyelimuti halaman Kantor Pemerintah Kota Padangsidimpuan, Kamis (19/2/2026). Sejumlah keluarga mengantar dengan pelukan dan doa, melepas sanak saudara yang akan menempuh perjalanan spiritual ke Dharmasraya.
Rombongan peserta suluk secara resmi dilepas oleh Staf Ahli Wali Kota Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan, Irham Kurnia Agustan, S.KM, M.Kes, yang mewakili Wali Kota Letnan Dalimunthe.
Bagi para peserta, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan langkah menuju kedalaman hati. Suluk, dalam tradisi tasawuf, adalah ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri dan Sang Pencipta. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, mereka memilih berhenti sejenak—menepi untuk menata ulang niat, memperkuat dzikir, serta membersihkan batin dari riuhnya dunia.
Dalam sambutannya, Irham menyampaikan pesan yang hangat dan membumi. Ia menekankan bahwa suluk bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga proses pemulihan jiwa. “Ketika hati tenang, pikiran menjadi jernih. Ketika pikiran jernih, tindakan pun akan lebih bijak,” ujarnya. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik selama menjalani rangkaian ibadah yang padat, mulai dari qiyamul lail hingga wirid berjam-jam lamanya.
Di antara rombongan, tampak wajah-wajah penuh harap. Ada yang sudah lanjut usia, ada pula yang masih dalam usia produktif. Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun dipersatukan oleh niat yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa keluarga tak kuasa menahan air mata, bukan karena berat melepas, tetapi karena bangga menyaksikan langkah spiritual orang-orang tercinta.
Tradisi suluk sendiri telah lama mengakar dalam khazanah Islam Nusantara. Di bawah bimbingan mursyid, para jamaah menjalani disiplin ibadah secara terstruktur dan kolektif. Kebersamaan dalam dzikir dan tafakur bukan hanya memperkuat hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga mempererat ukhuwah antar sesama peserta. Dari ruang-ruang sunyi itulah lahir empati, kesabaran, dan keteguhan hati.
Pemerintah Kota Padangsidimpuan memandang kegiatan ini sebagai bagian dari pembangunan manusia yang utuh. Spiritualitas yang matang diyakini akan melahirkan pribadi yang jujur, berintegritas, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi masyarakat yang tangguh dan harmonis.
Saat bus perlahan bergerak meninggalkan lokasi pelepasan, tangan-tangan melambai mengiringi doa. Harapannya sederhana namun mendalam: semoga para peserta kembali dengan hati yang lebih lapang, jiwa yang lebih teduh, dan semangat baru untuk menebar kebaikan di tengah masyarakat. Dari perjalanan sunyi menuju Dharmasraya, tersimpan harapan besar bagi cahaya perubahan di Kota Padangsidimpuan. (PS/BERMAWI)
