Sebuah rekaman video berdurasi sekitar 50 detik yang diterima awak media memperlihatkan badan jalan aspal yang hampir seluruhnya tertutup lumpur. Jalur yang seharusnya menjadi akses utama masyarakat itu kini berubah menjadi lintasan berbahaya bagi pengendara.
Akibat kondisi tersebut, dilaporkan telah terjadi kecelakaan tunggal yang menimpa seorang pengendara yang melintas di lokasi tersebut. Jalur ini diketahui menjadi akses mobilisasi material tanah timbun yang diduga digunakan untuk proyek pembangunan Jembatan Aek Batahan.
Kepala Desa Muara Pertemuan, Abdi Negara, saat dikonfirmasi pada Selasa (10/3/2026), membenarkan adanya kecelakaan yang terjadi akibat kondisi jalan yang licin dan berlumpur.
“Benar, telah terjadi kecelakaan tunggal yang diakibatkan jalan protokol di desa kami berlumpur,” ujar Abdi Negara.
Lebih lanjut, Abdi Negara juga menyoroti aktivitas pengerukan tanah yang diduga menjadi sumber material proyek tersebut. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini pihak Pemerintah Desa tidak pernah memberikan rekomendasi terhadap aktivitas galian di wilayah tersebut.
“Aktivitas galian di pinggir jalan desa kami tidak pernah ada rekomendasi dari saya. Saya juga tidak pernah mengetahui adanya perizinan dari galian tersebut,” tegasnya.
Menurutnya, pihak pengelola galian hingga kini juga belum pernah menunjukkan dokumen perizinan resmi kepada Pemerintah Desa Muara Pertemuan. Hal ini memunculkan dugaan bahwa aktivitas pengerukan tanah tersebut berjalan tanpa koordinasi dengan pemerintah desa setempat.
Di sisi lain, material tanah yang berserakan di badan jalan diduga kuat akibat kelalaian dalam proses pengangkutan material proyek. Kondisi ini membuat jalan protokol menjadi licin dan berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi pengendara yang melintas.
Warga setempat yang enggan disebutkan namanya meminta agar pihak pengelola galian maupun kontraktor proyek Jembatan Aek Batahan segera bertanggung jawab atas kondisi jalan yang kotor dan membahayakan tersebut.
“Masa jalan protokol dibiarkan seperti ini. Kalau hujan makin parah, pengendara bisa terus jadi korban,” ujar salah seorang warga.
Warga juga mendesak instansi terkait agar segera turun tangan mengecek legalitas aktivitas galian tersebut sekaligus memastikan keselamatan pengguna jalan di kawasan KM 12 Muara Pertemuan. (PS/210)
