Ketua Frakai Golkar DPRD Tapsel berilan bingkisan kepada Calhaj Marancar
POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL-Sabtu, 25 April 2026 sekitar pukul 11.00 WIB menjadi momen yang sarat emosi dan makna bagi masyarakat Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Enam calon jamaah haji (calhaj) dilepas secara resmi dari Masjid Raya Pasar Sempurna dalam suasana haru yang menyelimuti keluarga, kerabat, dan warga yang turut mengantar. Tangis haru bercampur doa mengiringi langkah para tamu Allah yang akan menunaikan rukun Islam kelima.
Enam jamaah tersebut berasal dari latar belakang sederhana namun penuh semangat spiritual: empat orang dari Pasar Sempurna, satu dari Desa Huraba (Dusun Huta Padang), dan satu dari Desa Aek Nabara. Mereka tergabung dalam Kloter 5 embarkasi haji tahun ini, membawa harapan besar tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan.
Pelepasan ini bukan sekadar seremoni keagamaan. Lebih dari itu, momen ini menjadi cermin kuatnya nilai kebersamaan dalam masyarakat. Masjid, yang selama ini menjadi pusat ibadah, berubah menjadi ruang emosional tempat doa, pelukan, dan harapan berpadu. Setiap jabat tangan dan peluk hangat seolah menjadi pesan tak terucap: bahwa perjalanan ini adalah milik bersama.
Di tengah suasana tersebut, hadir sentuhan kepedulian dari Ketua Fraksi DPRD Golkar Tapanuli Selatan Andesmar Siregar, S.Kom., yang secara langsung menyerahkan bingkisan dan uang Riyal dari Ketua Goljar Tapsel H.Rahnat Naaution kepada para jamaah. Bantuan ini bukan hanya simbol dukungan materi, tetapi juga bentuk perhatian tulus yang menyentuh hati para calon jamaah dan keluarganya.
“Ini bukan sekadar pemberian, tetapi bentuk doa dan dukungan kami agar para jamaah diberikan kesehatan, kelancaran, dan kembali sebagai haji yang mabrur,” ujar Andesmar dengan penuh harap. Kehadirannya di tengah masyarakat bukan hanya sebagai representasi politik, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang turut merasakan kebahagiaan dan haru.
Tradisi pemberian bingkisan oleh Partai Golkar Tapanuli Selatan ini telah menjadi bagian dari budaya lokal yang terus dijaga. Di balik nilai simboliknya, tersimpan makna mendalam tentang solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Tradisi ini menjadi jembatan emosional antara masyarakat dan pemangku kepentingan, memperkuat rasa kebersamaan di tengah dinamika kehidupan modern.
Secara human interest, momen ini menyiratkan kekuatan dukungan sosial dalam kehidupan masyarakat. Para jamaah tidak hanya berangkat dengan bekal materi, tetapi juga dengan kekuatan doa dan cinta dari lingkungan sekitar. Sementara itu, keluarga yang ditinggalkan menemukan ketenangan dalam kebersamaan dan perhatian yang mereka terima.
Pelepasan calon jamaah haji di Kecamatan Marancar tahun ini menjadi lebih dari sekadar agenda rutin. Ia menjelma menjadi kisah tentang kepedulian, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap perjalanan besar, selalu ada doa-doa kecil yang menguatkan.(PS/BERMAWI)
