POSKOTASUMATERA.COM-DELISERDANG- Ungkapan “no viral, no justice” kembali terasa relevan. Baru sekitar satu jam setelah kondisi kumuh Kantor Desa Negara Beringin diberitakan, tumpukan sampah yang sebelumnya jadi pergunjingan warga mendadak “ditangani”.
Sayangnya, penanganan yang dilakukan justru menimbulkan persoalan baru. Sampah yang menumpuk di belakang kantor desa itu tidak diangkut sebagaimana mestinya, melainkan dibakar di lokasi. Asap tebal dengan bau menyengat sempat menyelimuti area sekitar.
Respons kilat ini memunculkan kesan bahwa tindakan baru dilakukan setelah sorotan publik mencuat, bukan sebagai bagian dari pengelolaan rutin. Padahal sebelumnya, kondisi lingkungan kantor desa tersebut disebut-sebut sudah lama dibiarkan kumuh tanpa penanganan serius.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga menilai kondisi Kantor Desa Negara Beringin di Kecamatan STM Hilir sangat memprihatinkan. Tumpukan sampah di area belakang bangunan membuat kantor pelayanan publik itu tampak tidak terurus.
“Baru viral langsung dibersihkan, tapi caranya dibakar. Ini solusi atau sekadar menutupi masalah?” sindir seorang warga.
Tak hanya soal kebersihan, warga juga mempertanyakan kinerja aparatur desa yang dinilai lalai menjaga lingkungan kantor. Bahkan, muncul dugaan terkait pengelolaan anggaran kebersihan yang dianggap tidak transparan.
“Kalau memang ada anggaran, kenapa kondisi bisa sampai seperti itu? Kalau tidak ada, ke mana selama ini perhatian terhadap kebersihan kantor desa”, ujar warga lainnya.
Sorotan juga mengarah pada pembangunan teras baru di lingkungan kantor desa yang dinilai tidak prioritas. Di tengah persoalan kebersihan yang belum tertangani dengan baik, pembangunan tersebut dianggap kurang tepat sasaran.
“Bangunan baru ada, tapi sampah menumpuk. Ini yang jadi pertanyaan masyarakat, mana yang sebenarnya lebih penting,” tambah warga.
Langkah pembakaran sampah ini pun dinilai sebagai solusi instan yang jauh dari prinsip pengelolaan lingkungan yang baik. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara tersebut justru berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dan pencemaran udara.
Hingga berita ini diperbarui, Penjabat Kepala Desa Negara Beringin, Kornelius Sembiring, belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi tersebut maupun alasan penanganan sampah dengan cara dibakar.
Situasi ini mempertegas satu hal: perhatian baru muncul setelah sorotan publik menguat. Pertanyaannya, apakah pelayanan publik memang harus menunggu viral terlebih dahulu untuk kemudian bergerak.(PS/HS)
