POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN — Peringatan Hari Buruh Internasional tahun 2026 di Kota Padangsidimpuan berlangsung dengan pendekatan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia – Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (F-SPTI-K.SPSI) memilih mengedepankan kegiatan silaturahmi sebagai bentuk peringatan, alih-alih melakukan aksi turun ke jalan.
Ketua DPC F-SPTI-K.SPSI Kota Padangsidimpuan, Andi Aryanto, yang dikenal dengan sapaan Raja Buah, menegaskan bahwa pilihan tersebut didasarkan pada pendekatan sosial yang lebih konstruktif.
Menurutnya, esensi perjuangan buruh tidak selalu harus diwujudkan melalui demonstrasi, melainkan dapat dilakukan melalui dialog, konsolidasi internal, serta penguatan solidaritas antarpekerja.
Dalam perspektif ilmiah hubungan industrial, pendekatan ini sejalan dengan konsep industrial harmony, yaitu upaya menciptakan hubungan kerja yang stabil, produktif, dan berkeadilan melalui komunikasi yang efektif antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.
Raja Buah menilai bahwa stabilitas sosial merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus melindungi kepentingan buruh secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kegiatan silaturahmi yang dilakukan tidak hanya mempertemukan para pekerja dan pengurus serikat, tetapi juga melibatkan masyarakat umum.
Hal ini mencerminkan paradigma baru dalam gerakan serikat pekerja, yang tidak lagi eksklusif, melainkan inklusif dan berbasis komunitas. Dengan demikian, buruh tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif dalam menciptakan kohesi sosial.
Dari sisi sosiologi ketenagakerjaan, pendekatan tanpa aksi jalanan ini juga dapat mengurangi potensi konflik horizontal maupun gangguan terhadap ketertiban umum. Kota Padangsidimpuan sebagai wilayah yang berkembang membutuhkan iklim kondusif agar aktivitas ekonomi tetap berjalan optimal. Oleh karena itu, strategi peringatan May Day yang lebih dialogis dinilai sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika sosial modern.
Raja Buah menegaskan bahwa meskipun tidak turun ke jalan, perjuangan buruh tetap berjalan melalui jalur advokasi, pendidikan pekerja, dan penguatan kapasitas organisasi. Ia juga mengajak seluruh elemen buruh untuk terus meningkatkan kompetensi dan kesadaran hukum ketenagakerjaan, sehingga mampu memperjuangkan hak-haknya secara cerdas dan terukur.
Peringatan May Day 2026 di Padangsidimpuan ini menjadi contoh bahwa gerakan buruh dapat berkembang secara adaptif tanpa kehilangan esensi perjuangannya. Dengan mengedepankan persatuan, komunikasi, dan stabilitas sosial, buruh menunjukkan bahwa kekuatan kolektif tidak selalu identik dengan aksi massa, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kebersamaan yang harmonis dan berkelanjutan.(PS/BERMAWI)
