POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN – Di balik semangat mahasiswa semester akhir menuntaskan pendidikan dan meraih gelar sarjana, terselip persoalan yang dirasakan cukup berat oleh sebagian orang tua. Sejumlah biaya kegiatan akademik pada Program Studi S1 Pendidikan Desain Fashion, Fakultas Bisnis Fashion dan Pendidikan Terapan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan, dikeluhkan karena dinilai cukup membebani kemampuan ekonomi keluarga.
Keluhan tersebut disampaikan salah seorang orang tua mahasiswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Ia mengungkapkan, untuk mengikuti kegiatan fashion show yang dilaksanakan Rabu (19/8/2026), mahasiswa disebut dikenakan biaya sebesar Rp2 juta per orang. Selain itu, terdapat biaya seminar proposal atau sempro sebesar Rp1 juta dan biaya skripsi Rp1 juta dan biaya Wisuda Rp 4 Juta.Jika seluruh biaya tersebut dijumlahkan, beban yang harus dipersiapkan mahasiswa mencapai sekitar Rp 8 juta.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, angka tersebut bukanlah jumlah yang ringan. Orang tua mahasiswa tersebut mengaku harus mencari berbagai cara agar kebutuhan pendidikan anaknya tetap dapat dipenuhi. Bahkan, ia menyebut sampai harus menjual sebagian tanah yang dimiliki. Kisah tersebut menggambarkan bahwa biaya pendidikan tidak sekadar menjadi angka dalam administrasi kampus, tetapi dapat menjadi persoalan nyata yang dirasakan keluarga di tingkat rumah tangga.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah transparansi komponen biaya fashion show. Orang tua mahasiswa tersebut mempertanyakan dasar penetapan biaya hingga mencapai Rp2 juta per mahasiswa. Menurut perkiraannya, sejumlah kebutuhan kegiatan yang ditanggung institusi, seperti keyboard, konsumsi dan cendera mata, nilainya diperkirakan sekitar Rp150 ribu per mahasiswa. Karena itu, ia berharap pihak kampus dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai rincian penggunaan dana tersebut.
Di sisi lain, kegiatan fashion show pada dasarnya memiliki nilai penting dalam proses pendidikan desain fashion. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan teori dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan, mulai dari merancang busana, menentukan konsep, memproduksi karya, hingga mempresentasikan hasil kreativitas di hadapan publik. Dengan demikian, kegiatan tersebut memiliki nilai akademik sekaligus menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja profesional.
Namun, nilai pendidikan sebuah kegiatan seyogianya berjalan beriringan dengan tata kelola pembiayaan yang transparan dan proporsional. Penjelasan mengenai dasar penetapan biaya, komponen pengeluaran, serta mekanisme pembayarannya penting disampaikan kepada mahasiswa dan orang tua. Keterbukaan informasi dapat mencegah munculnya kesalahpahaman sekaligus membangun rasa percaya antara perguruan tinggi dengan keluarga mahasiswa.
Sementara itu, Ketua Yayasan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan ketika hendak dikonfirmasi terkait keluhan tersebut, termasuk rincian biaya fashion show, seminar proposal dan skripsi, belum berhasil dihubungi. Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak 7 kepada mahasiswa, orang tua dan masyarakat. (PS/BERMAWI)
