POSKOTASUMATERA.COM – TAPANULI SELATAN – Forum Ilmiah Guru (FIG) SMA Negeri 1 Angkola Barat pada Kamis, 20 Agustus 2026, mengangkat tema “Penguatan Kegiatan Kokurikuler Melalui Program Tanpa Tong Sampah (TTS)”. Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik bagi para guru untuk bertukar gagasan sekaligus merumuskan strategi pendidikan lingkungan yang dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sekolah.
Program Tanpa Tong Sampah (TTS) tidak sekadar dimaknai sebagai upaya mengurangi keberadaan tempat sampah di lingkungan sekolah. Lebih jauh, konsep ini menekankan perubahan perilaku melalui pembentukan kesadaran warga sekolah agar mampu mencegah timbulnya sampah sejak dari sumbernya. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pengelolaan lingkungan modern yang menempatkan pencegahan sampah sebagai bagian penting dari budaya hidup berkelanjutan.
Melalui Forum Ilmiah Guru, para pendidik berdiskusi mengenai bagaimana kegiatan kokurikuler dapat menjadi media pembelajaran kontekstual. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui materi pembelajaran di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam menjaga kebersihan, memilah material yang masih dapat dimanfaatkan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.
Secara pedagogis, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam penguatan karakter peserta didik. Kebiasaan sederhana seperti membawa wadah makanan dan minuman yang dapat digunakan kembali, menghindari penggunaan plastik sekali pakai, serta memastikan tidak meninggalkan sampah setelah beraktivitas dapat menjadi proses pembelajaran yang membangun disiplin, tanggung jawab, kepedulian dan kemandirian.
Gagasan utama program TTS adalah membangun paradigma bahwa kebersihan sekolah tidak semata-mata bergantung pada banyaknya tong sampah atau petugas kebersihan. Lingkungan yang bersih justru berawal dari perilaku manusia yang memiliki kesadaran untuk tidak menghasilkan sampah secara berlebihan. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dapat diukur dari kondisi halaman sekolah yang bersih, tetapi juga dari perubahan kebiasaan seluruh warga sekolah.
Kepala SMAN 1 Angkola Barat, Salamat Siregar, S.Pd., M.Si., memberikan dukungan terhadap penguatan kegiatan kokurikuler yang berorientasi pada kepedulian lingkungan. Menurutnya, pendidikan memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar meningkatkan kemampuan akademik siswa. Sekolah juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran sosial dan ekologis.
Forum Ilmiah Guru ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara guru dan peserta didik dalam menciptakan ekosistem sekolah yang sehat, bersih dan berkelanjutan. Jika dilakukan secara konsisten, program TTS dapat berkembang menjadi budaya sekolah yang melekat dalam aktivitas sehari-hari, sekaligus menjadi contoh bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Pada akhirnya, Program Tanpa Tong Sampah bukan hanya tentang mengurangi sampah, melainkan tentang membangun cara berpikir baru. SMAN 1 Angkola Barat melalui Forum Ilmiah Guru menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat diintegrasikan dengan kegiatan kokurikuler untuk menghasilkan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Dari sekolah yang bebas sampah, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan masa depan kehidupan.(PS/BERMAWI)
