HAORNAS 2026: Jangan Hanya Rayakan Medali, Bangun Sistem yang Melahirkan Juara

/ Rabu, 09 September 2026 / 17.18.00 WIB

Syamsul Lubis, S.Pd., M.Pd.  Alumni Pascasarjana UNIMED Prodi Pendidikan Olahraga Guru SMAN 1 Padangsidimpuan

Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) 2026 kembali menjadi momentum untuk menggelorakan semangat olahraga di tengah masyarakat. Upacara, pertandingan, penggunaan seragam olahraga hingga berbagai kegiatan olahraga menjadi bagian dari kemeriahan peringatan tersebut. Namun di balik seremoni itu, ada pertanyaan mendasar yang layak direnungkan: setelah HAORNAS berakhir, apa yang benar-benar berubah dalam tata kelola dan pembinaan olahraga daerah?


Pertanyaan tersebut menjadi penting karena prestasi olahraga pada hakikatnya tidak lahir secara instan. Medali yang diraih seorang atlet merupakan produk dari proses panjang yang melibatkan pencarian bakat, latihan terprogram, kompetisi berjenjang, kualitas pelatih, fasilitas memadai, dukungan keluarga, organisasi olahraga, pemerintah, hingga dunia usaha. Dengan demikian, medali bukanlah titik awal prestasi, melainkan output dari sebuah sistem pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan.


Menurut Syamsul Lubis, S.Pd., M.Pd., Alumni Pascasarjana UNIMED Prodi Pendidikan Olahraga, HAORNAS 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Peringatan ini perlu dijadikan ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana pembinaan atlet telah berjalan secara sistematis. Jangan sampai perhatian terhadap atlet baru meningkat ketika kejuaraan sudah berada di depan mata, sementara proses pembinaan yang seharusnya berlangsung sepanjang tahun justru belum mendapatkan dukungan optimal.


Dalam perspektif pembinaan olahraga modern, kesinambungan menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan atlet berprestasi. Sekolah dapat menjadi basis awal identifikasi dan pencarian talenta olahraga. Guru pendidikan jasmani memiliki posisi strategis dalam mengenali potensi peserta didik, sementara klub dan organisasi cabang olahraga menjadi ruang pengembangan kemampuan. Di sisi lain, pelatih harus terus meningkatkan kompetensi kepelatihan, sedangkan pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan, fasilitas, kompetisi, pembiayaan dan sistem penghargaan yang mendukung keberlanjutan karier atlet.

Prestasi juga tidak semestinya hanya dihitung berdasarkan jumlah medali. Keberhasilan pembangunan olahraga harus dilihat lebih luas, termasuk bertambahnya partisipasi anak dan remaja dalam aktivitas fisik, lahirnya bibit-bibit atlet baru, aktifnya sekolah dan klub melakukan pembinaan, tersedianya kompetisi usia dini secara berjenjang, serta semakin kuatnya budaya hidup sehat di tengah masyarakat. Medali hanyalah puncak dari sebuah gunung prestasi; fondasi yang berada di bawahnya jauh lebih besar dan menentukan.

Dalam konteks Kota Padangsidimpuan, momentum HAORNAS 2026 dapat menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat kembali ekosistem olahraga daerah. Kota yang dikenal sebagai Kota Salak ini memiliki generasi muda yang potensial untuk dikembangkan.


Tantangannya bukan sekadar menemukan siapa yang berbakat, tetapi memastikan bahwa setiap talenta memiliki akses terhadap tempat latihan, pelatih berkualitas, kompetisi, fasilitas olahraga, pendampingan serta jalur pembinaan yang jelas. Jangan sampai potensi atlet daerah justru berkembang di tempat lain karena ekosistem olahraga di daerah asalnya belum mampu memberikan ruang yang memadai.Karena itu, pembangunan olahraga membutuhkan support system yang terintegrasi.


 Pemerintah, sekolah, guru olahraga, klub, organisasi cabang olahraga, pelatih, orang tua, dunia usaha dan masyarakat harus menjadi mata rantai yang saling menguatkan. Jika salah satu mata rantai terputus, perjalanan seorang atlet menuju prestasi akan semakin berat. Sebaliknya, ketika seluruh komponen bergerak dalam satu sistem yang terencana, peluang melahirkan atlet berprestasi secara berkelanjutan akan semakin besar.


HAORNAS 2026 akhirnya bukan sekadar momentum untuk memberikan tepuk tangan kepada para juara. Lebih jauh, ia harus menjadi semacam rapor pembinaan olahraga daerah. Apakah atlet muda telah mendapatkan kesempatan bertanding? Apakah pelatih memperoleh dukungan dan peningkatan kompetensi? Apakah fasilitas olahraga tersedia, digunakan dan dirawat? Apakah atlet berprestasi mendapatkan penghargaan dan pembinaan lanjutan? Dan yang paling penting, apakah hari ini kita sedang mempersiapkan generasi juara untuk masa depan?


Kita sesungguhnya tidak kekurangan mimpi untuk menjadi juara. Yang dibutuhkan adalah konsistensi untuk mengubah mimpi menjadi kebijakan, kebijakan menjadi program, program menjadi pembinaan, dan pembinaan menjadi prestasi. Olahraga yang maju bukan hanya olahraga yang ramai ketika pertandingan berlangsung, tetapi olahraga yang tetap bekerja ketika tidak ada kamera, tidak ada podium dan belum ada medali. Di sanalah prestasi sesungguhnya dimulai.

HAORNAS 2026 — Jangan hanya merayakan prestasi. Bangun sistem yang melahirkan prestasi. Tetap semangat kepada seluruh pejuang olahraga, para atlet, pelatih, guru olahraga, pengurus organisasi dan seluruh penggerak olahraga daerah.

Menuju pentas juara.



Komentar Anda

Terkini: