POSKOTASUMATERA.COM – TAPANULI SELATAN – Upaya melestarikan warisan budaya Batak Tapanuli Selatan terus diperkuat melalui diskusi tentang partuturan yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali pemahaman generasi muda terhadap sistem kekerabatan dan tata cara bertutur yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat.
Diskusi tersebut melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan, Efrida Yanti Pakpahan, STP., MM,bersama Ketua Forum Komunikasi Lembaga Adat (FORKALA) Tapanuli Selatan, Aswin Harahap Gelar Sutan Baginda Malim Suten, Ketua Dewan Kesenian Daerah Tapanuli Selatan (DKDTS), Drs. H.Agussalim Simatupang,MAP Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Tapsel Derliani Harahap serta perwakilan tokoh adat dari 15 kecamatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, pelaku seni, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya daerah.
Dalam diskusi itu, muncul keprihatinan terhadap semakin berkurangnya pemahaman anak-anak dan generasi muda mengenai partuturan. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta pola komunikasi modern, pengetahuan tentang panggilan kekerabatan dan tata krama berbicara dalam adat berpotensi semakin terpinggirkan apabila tidak diwariskan secara sistematis. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi membutuhkan pendidikan dan pembiasaan sejak dini.
Secara konseptual, partuturan bukan sekadar persoalan mengenal sebutan bagi anggota keluarga atau kerabat. Dalam kehidupan masyarakat Batak, partuturan berkaitan erat dengan pemahaman hubungan kekerabatan, posisi seseorang dalam struktur adat, serta etika berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan tersebut membantu membentuk sikap hormat, kesantunan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan menempatkan diri sesuai konteks hubungan kekerabatan. Karena itu, partuturan dapat dipandang sebagai salah satu sarana pendidikan karakter yang berakar pada kearifan lokal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan, Efrida Yanti Pakpahan, menempatkan pelestarian pengetahuan adat sebagai bagian penting dari upaya menjaga kekayaan budaya daerah. Melalui forum diskusi tersebut, pengetahuan dan pengalaman para tokoh adat diharapkan dapat dihimpun menjadi bahan tertulis yang tersusun secara sistematis. Langkah ini penting agar pengetahuan yang selama ini banyak diwariskan secara lisan tidak hilang seiring berkurangnya penutur dan tokoh yang menguasainya.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan, Derliani Harahap, SP, turut menjadi bagian dari upaya penguatan dokumentasi budaya tersebut. Hasil diskusi bersama para tokoh adat direncanakan dituangkan dalam bentuk dokumen yang memuat pengetahuan, istilah, prinsip, dan contoh penerapan partuturan dalam kehidupan sehari-hari. Dokumentasi ini diharapkan menjadi rujukan awal untuk proses penyusunan buku pembelajaran maupun bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik budaya lokal Tapanuli Selatan.
Keterlibatan tokoh adat dari 15 kecamatan menjadi unsur penting dalam penyusunan dokumen tersebut. Keragaman pengalaman dan pengetahuan lokal perlu dihimpun secara cermat agar materi yang disusun memiliki dasar budaya yang kuat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Proses penyusunan juga perlu memperhatikan variasi istilah, konteks penggunaan, serta kesepakatan adat yang berlaku di tengah masyarakat. Dengan demikian, rencana pengembangan materi partuturan ke dalam buku atau kurikulum sekolah dapat dilakukan melalui tahapan kajian, verifikasi bersama tokoh adat, dan penyesuaian terhadap ketentuan pendidikan yang berlaku.
Diskusi partuturan di Aula Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan ini diharapkan menjadi titik awal gerakan pelestarian budaya yang berkelanjutan. Sinergi pemerintah daerah, lembaga adat, Dewan Kesenian Daerah, sekolah, dan keluarga diperlukan agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga memahami nilai dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ketika partuturan diwariskan melalui pendidikan, keluarga, dan praktik sosial, yang dijaga bukan hanya istilah kekerabatan, melainkan juga jati diri, kesantunan, dan kearifan lokal masyarakat Tapanuli Selatan untuk generasi mendatang.(PS/BERMAWI)


