Meneguhkan Demokrasi Berbasis Nilai: Refleksi Ilmiah Peringatan Hari Lahir Pancasila di Tapanuli Selatan

/ Senin, 02 Juni 2025 / 20.11.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM, TAPSEL — Di tengah tantangan dinamika demokrasi kontemporer, peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Kantor Bupati Tapanuli Selatan, Senin (2/6-2025), tampil sebagai ruang reflektif yang bukan hanya bersifat seremonial, tetapi sarat makna kebangsaan. Kehadiran Vernando Maruli Aruan, ST.C.Med, selaku Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Tapsel, mencerminkan peran strategis lembaga pengawas dalam memperkuat fondasi demokrasi melalui pendekatan kolaboratif.


Dalam upacara yang dipimpin Wakil Bupati Jafar Syahbuddin Ritonga, nilai-nilai Pancasila direinterpretasi sebagai landasan etis dan operasional dalam tata kelola pemerintahan dan pengawasan pemilu. Pendekatan ini sejalan dengan teori governance kolaboratif, yang menekankan pentingnya sinergi antar-aktor—negara, penyelenggara pemilu, dan masyarakat sipil—untuk mewujudkan pemerintahan yang responsif dan akuntabel.


“Pancasila adalah ruh dari demokrasi Indonesia. Ia bukan sekadar simbol, melainkan prinsip kerja dalam membangun tata kelola pemilu yang transparan dan partisipatif,” tegas Vernando. Ia menambahkan bahwa pengawasan yang efektif bukan hanya soal penindakan, melainkan juga soal transformasi kesadaran politik masyarakat melalui edukasi yang berkelanjutan.


Dari perspektif ilmiah, pendekatan ini mencerminkan apa yang disebut dalam literatur politik sebagai demokrasi deliberatif, di mana partisipasi publik menjadi syarat utama legitimasi. Bawaslu, dalam hal ini, menjalankan peran ganda: sebagai penjaga regulasi dan sekaligus agen perubahan sosial yang berakar pada nilai-nilai Pancasila—keadilan sosial, musyawarah mufakat, dan kemanusiaan yang adil dan beradab.


Dengan mengusung semangat #AyoAwasiBersama, Bawaslu Kabupaten Tapanuli Selatan menyerukan pengawasan partisipatif  pada saat tahapan Pemilihan umum berlangsung. Konsep gotong royong—sebagai manifestasi sosiologis Pancasila—didorong untuk menjadi basis dari penguatan integritas demokrasi lokal. Dalam konteks ini, edukasi politik bukan lagi sekadar pilihan, melainkan prasyarat ilmiah untuk membangun demokrasi yang substantif dan berkelanjutan.


Peringatan Hari Lahir Pancasila di Tapsel tahun ini bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan upaya mereaktualisasi nilai-nilai ideologis dalam praksis politik kontemporer. Momentum ini menjadi seruan intelektual dan moral bagi seluruh warga, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai kompas etis dalam setiap gerak kehidupan berbangsa.(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: